Reflektif Kritis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)

 Reflektif Kritis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)

Menurut KHD pengajaran merupakan proses dari suatu pendidikan, khususnya dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan pendidikan merupakan pemberian tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Menurut KHD pendidikan dan pengajaran merupakan usaha untuk membina dan mencetak generasi agar menjadi manusia yang bermasyarakat dan berbudaya. Pendidikan dan pengajaran diharapkan mampu memerdekakan manusia. Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan akan terciptanya ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh, sehingga mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.

Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah meliputi:

  1. Keimanan dan ketaqwaan merupakan hal yang sangat utama dalam proses mendidik anak. Ditempat kami yang mayoritas agama Islam memandang bahwa pendidikan keimanan mengajarkan manusia agar dalam dirinya tertanam kecintaan kepada Allah, yang terlihat dengan memiliki akhlak yang baik, sebab akhlak atau karakter yang baik merupakan bagian dari keimanan. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu untuk membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa. Pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu tetep antep dan mantep, merupakan sebuah fatwa yang disampaikannya untuk mempertebal keimanan anak dididik dengan tujuan memiliki keimanan yang kokoh tetap pada pendirian dan kuat keimanannya.
  2. Pembentukan karakter atau akhlak. Dimensi sikap menjadi salah satu dimensi yang membantuk karakter atau akhlak murid. Ki Hadjar Dewantara mengutamakan pendidikan mengenai budi pekerti. Budi pekerti adalah jiwa pengajaran. Maksud dan tujuan memberikan pengajaran budi pekerti, dihubungkan dengan tingkatan perkembangan jiwa yang ada pada diri anak-anak sejak usia dini hingga dewasa, dan juga diberikan ilmu perbandingan agar mengerti tentang ilmu keagamaan.
  3. Pembentukan jiwa mandiri atau merdeka. Pembentukkan kemandirian pada diri peserta didik merupakan salah satu tujuan dari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara menegaskan jiwa mandiri murid itu melalui kata-kata merdeka lahir batin. Murid diberikan kebebasan untuk berkreatifitas sehingga mereka bisa menjadi lebih mandiri serta menjadi murid yang aktif dan lebih percaya diri. Hal tersebut telah terealisasikan dalam pelaksanaan sistem among dimana siswa dididik dengan penuh kasih sayang. Guru bertugas memberikan dorongan, semangat dan memberikan contoh kepada siswa dalam berkarya, serta diberikan kebebasan dalam berkarya berdasarkan pengalaman dan usahanya sendiri dan tidak memberikan tekanan kepada murid sehingga jiwa merdekanya tidak hilang maka dari pada itu Ki Hadjar Dewantara mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan atau kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak.

Selama ini pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebenarnya telah kita lakukan tanpa kita sadari, akan tetapi belum sepenuhnya. Karena selama ini kita lebih fokus kepada kompetensi kognitif dengan berlomba untuk mencapai nilai tinggi dan terlupakan menerapan nilai-nilai budaya dan karakter.

Selaku pendidik, kita semua sangat mengharapkan bisa mengaplikasikan semboyan ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. dengan harapan murid-murid kita memiliki jiwa mandiri

Comments

Popular posts from this blog

RPP : MATEMATIKA KURIKULUM 2013 MATERI EKSPONEN DAN LOGARITMA

RPP K-13 : SENI BUDAYA SMK/SMA (MATERI : SENI RUPA 3 DIMENSI)

RPP K-13 SEJARAH INDONESIA (MATERI : Perang Melawan Kolonialisme)