PTK 1 : PENGGUNAAN METODE COOPERATIVE LEARNING MODEL STAD DAPAT MENINGKATKAN KEBERSAMAAN SISWA PADA PEMBELAJARAN SENI TARI
PENGGUNAAN METODE COOPERATIVE LEARNING MODEL STAD DAPAT MENINGKATKAN KEBERSAMAAN SISWA PADA PEMBELAJARAN SENI TARI
DI KELAS VII PADA SMP NEGERI 2 MUERAH MULIA
KABUPATEN ACEH UTARA
BAB I
DI KELAS VII PADA SMP NEGERI 2 MUERAH MULIA
KABUPATEN ACEH UTARA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan
tempat tinggal mereka, dengan kata lain lingkungan yang baik akan memberi
dampak positif pada prilaku manusia. Tetapi sebaliknya apabila lingkungan yang
kurang baik maka akan berpengaruh kurang baik pula terhadap prilaku manusianya.
Berkaitan dengan hal tersebut apabila diaplikasikan dalam proses belajar
mengajar di sekolah, peserta diarahkan ke suasana demokrasi agar potensi siswa
dapat berkembang dengan baik.
Menurut Dewey dan Thelan dalam Trianto,
(2007:45) “…sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah
laku demokrasi”. Suasana demokrasi yaitu suasana yang memungkinkan untuk
tumbuhkembangnya potensi-potensi siswa yang positif dan bermanfaat bagi
pembangunan bangsa, seperti halnya mengembangkan kreativitas siswa,
mengembangkan kemampuan berfikir, dan mengembangkan ketrampilan berinteraksi
dengan lingkungan.
Hal ini dalam pembelajaran di sekolah sangat
cocok dengan pembelajaran cooperative learning, yang mana siswa dibagi
dalam kelompok-kelompok kecil dan untuk beberapa pertemuan mereka tetap dalam
kelompoknya kemudian mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar
dapat berkerjasama dengan baik. Ketrampilan-ketrampilan itu di antaranya
kemampuan menyelesaikan masalah, kecakapan mengemukakan pendapat, kecakapan
menyikapi pendapat temannya, dan membantu teman yang memiliki kemampuan yang
kurang.
Pada dasarnya Pembelajaran cooperative
learning ini adalah untuk menciptakan susana belajar yang lebih hidup dan
nyaman. Hidup dalam pengertian, siswa yang lebih aktif di bandingkan cuma
mendengarkan penjelasan materi dari guru. Nyaman maksudnya adalah suasana
belajar yang tidak kaku karena dengan metode ini sesama siswa lebih leluasa
memberikan pendapat ataupun pertanyaan bahkan bisa memberikan ide di bandingkan
berkomunikasi dengan gurunya.
Dari paparan di atas sangatlah jelas untuk
bekerjasama perlu adanya hubungan yang baik walaupun mereka memiliki latar
belakang yang berbeda Perbedaan di sini bisa karena jenis kelamin laki-laki
atau perempuan, faktor kemampuan pandai atau kurang pandai, faktor lingkungan
keluarga, agama, suku adat budaya dan yang lainnya. Perbedaan ini, di kelas pun
ada dan ini sangat terlihat jelas antara kelompok siswa laki-laki dan kelompok
siswa perempuan dan ada juga siswa yang mau berbaur dengan teman sesama
jenisnya ada juga yang tidak, bahkan seperti ada diskriminasi sehingga menurut
peneliti metode cooperative learning cocok untuk diterapkan agar kebersamaan
lebih meningkat di dalam pembelajaran seni budaya khususnya seni tari. Menurut
peneliti jika perbedaan-perbedaan ini dibiarkan maka akan terjadi
pengelompokan-pengelompokan yang kurang positif dan dikhawatirkan akan lahir
prilaku-prilaku yang kurang baik. Untuk itu perlu adanya pembelajaran cooperative
learning.
Di dalam pembelajaran ini guru hanya sebagai
fasilitator saja atau memberi arahan-arahan apabila ada sesuatu yang belum
dipahami oleh siswa. Guru mengupayakan agar siswa lebih kreatif dan lebih
mengenal teman sekelompoknya atau teman sekelasnya.
Apalagi di dalam pembelajaran seni budaya,
siswa bukan hanya mempelajari bagaimana menciptakan karya seni dengan teknik
dan medianya, mempelajari irama musiknya dan gerak tarinya saja, tetapi
mempelajari bagaimana latar belakang terbentuknya karya seni tersebut, sehingga
dalam pembelajaran seni budaya perlu adanya kerja sama yang baik untuk
menuangkan pengalaman-pengalaman seni atau pemahaman-pemahaman seni yang di
milikinya.
Bagi siswa lingkungan sekolah bukan hanya
tempat menuntut ilmu tetapi juga tempat belajar berinteraksi dengan lingkungan
terutama lingkungan sosialnya, seperti belajar bergaul dengan teman sebayanya,
belajar bekerjasama, dan belajar memberi bantuan kepada temannya yang sedang
kesusahan. Hal ini berarti setelah belajar seni budaya khususnya seni tari
dengan menggunakan metode cooperative learning model STAD yang akan
dipakai dalam penelitian ini, itu tidak hanya kebersamaan siswa saja yang
meningkat tetapi harus ada perubahan sikap yang lebih baik sebagai salah satu
bekal dalam hidupnya.
Apabila sejak dini siswa dikenalkan dengan
sikap demokrasi, memperkenalkan seni budaya mudah-mudahan di masa yang akan
datang kekerasan atau diskriminasi tidak akan terjadi. Itu adalah salah satu
ketertarikan peneliti mengambil topik ini dan juga menurut peneliti
pembelajaran cooperative leraning di samping banyak sekali manfaatnya
juga metode ini oleh peneliti dianggap lebih efektif untuk mengatasi
permasalahan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah apakah
penggunaan metode cooperative learning model STAD pada pembelajaran seni
tari dapat
meningkatkan kebersamaan siswa di kelas VII pada SMP Negeri 2 Muerah Mulia Kabupaten Aceh Utara?.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan siswa dengan menggunakan metode cooperative
learning model STAD pada pembelajaran seni tari di
kelas VII pada SMP Negeri 2 Muerah Mulia Kabupaten Aceh Utara.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mampu
memberikan masukan yang bermanfaat bagi :
1.
Siswa, dengan
Pembelajaran seni tari dengan menggunakan metode cooperative learning model
STAD mampu menumbuhkan kebersamaan dan sikap demokratis yang tinggi, rasa
tanggung jawab yang tinggi, kecerdasan dan wawasan yang luas terhadap seni
budaya dan semangat belajar sehingga hasil belajar akan lebih bermanfaat.
2.
Sekolah, hasil
penelitian ini diharapkan mampu dijadikan sebagai dapat menjadi bahan acuan
bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran seni budaya.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Metode Cooperative Learning
Metode cooperative learning adalah
suatu cara atau strategi dalam menyampaikan pelajaran yang mana siswa dibagi
menjadi kelompok-kelompok kecil yang setiap kelompoknya terdiri dari empat atau
enam siswa secara heterogen baik dilihat dari berbagai segi kemampuan maupun
dari jenis kelaminnya. Tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan
kesempatan kepada semua siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses
berfikir dan kegiatan belajar.
Agar
kegiatan belajar terlaksana dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang
berisi pertannyaan atau tugas yang direncanakan untuk dikerjakan bersama-sama
dengan teman sekelompoknya. Selama belajar siswa tetap tinggal dalam
kelompoknya untuk beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan
ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama dalam kelompoknya,
seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman
sekelompoknya, membantu teman sekelompoknya yang lemah dan sebagainya.
Tugas
anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang di sajikan guru, dan
mereka saling membantu di antara teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan
materi tersebut. Apabila ada salah satu anggota kelompok yang belum menguasai
materi pelajaran maka belajar kelompok itu dikatakan belum selesai. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Ruskandi (2001:28) bahwa pengertian cooperative yaitu
“mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan saling membantu satu sama lain sebagai
tim”. Kerjasama dalam satu tim harus kompak untuk itu dibutuhkan kerja sama
yang baik antar anggota kelompoknya agar tujuan dapat tercapai.
Untuk
dapat belajar bekerjasama dengan baik dibutuhkan hubungan sosial yang baik
sehingga akan melahirkan sikap kebersamaan di antara kelompoknya. Seperti
dikemukakan Ibrahim dkk dalam Trianto (2007:44) “Pembelajaran ini mempunyai
efek yang berarti terhadap keragaman ras, budaya, agama, strata sosial,
kemampuan, dan ketidak mampuan”. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran cooperative dapat menyatukan perbedaan latar belakang dan
ini merupakan bagian dari sikap kebersamaan. Menurut Eggen dan Kauchak dalam
(Trianto,2007:42) “Pembelajaran cooperative merupakan sebuah kelompok
strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk
mencapai tujuan bersama”.
Jadi pembelajaran ini merupakan sebuah usaha
untuk meningkatakan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman
sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang
berbeda latar belakangnya.
Di
samping itu juga pembelajaran cooperative ini dapat meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir
kritis. Seperti apa yang dikemukakan oleh Trianto (2007:41) ”Pembelajaran cooperative
muncul dari konsep bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep
yang sulit jika mereka berdiskusi dengan temannya”. Ini berarti bahwa siswa
akan lebih berani dan terbuka apabila berdiskusi dengan teman sekelompoknya.
Tidak menutup kemungkinan dalam satu kelompok ada yang tidak paham, untuk itu
guru harus selalu mengupayakan agar siswa tetap aktif.
Pembelajaran
yang bernaung pada teori konstruktivis ini, muncul dari konsep bahwa
siswa akan lebih mudah memecahkan masalah yang sulit jika mereka saling bekerja
sama dengan temannya. Sesulit apapun siswa akan merasa lebih ringan untuk
mengerjakannya dibandingkan mengerjakan sendiri karena potensi atau kemampuan
temannya berbeda-beda.
Agar
tidak jenuh atau bosan dalam metode pembelajaran, model cooperative learning
mempunyai beberapa model diantaranya model STAD, jigsaw, investigasi
kelompok, berfikir berpasangan, dan penomoran berfikir bersama. Adapun
model-model pembelajaran cooperative learning adalah sbb:
1.
Model STAD (Student
Team Achievement Division)
Cara belajar kelompok dimana setiap kelompokmya
beranggotakan 4-5 siswa yang kemudian bekerjasama untuk menyelesaikan persoalan
kelompoknya secara bersama sama. Adapun pemilihan ketua dalam kelompok itu
dipilih secara demokratis oleh peserta kelompoknya sendiri.
2.
Model Tim Ahli
(Jigsaw)
Cara belajar dimana setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa
yang masing-masing kelompok memiliki tim ahli-tim ahli dan tim ahli dari
beberapa kelompok ini berkumpul untuk membahas permasalahan yang sama dan
menyamakan pemahaman kemudia mereka kembali ke kelompoknya masing-masing dan
mensosialisasikan hasil bahasannya kepada teman-teman sekelompoknya.
3.
Model
Investigasi Kelompok
Siswa dibagi dalam kelompok kecil, kelompok ini dapat
dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat yang sama
dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan
melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya
menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan seluruh siswa sekelasnya.
4.
Model Think
Pair Share ( TPS ) atau berpikir berpasangan
Adalah jenis pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi
pola interaksi siswa, dimana siswa diberi suatu pertanyaan yang berkaitan
dengan pelajaran, dan siswa didorong untuk berfikir sendiri beberapa menit
kemudian guru menyuruh siswa untuk mencari pasangan dan mendiskusikannya.
Selanjutnya melanjutkan dari pasangan kepasangan sampai sekitar sebagian
pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan. (Arends,1997) disadur
(Tjokrodiharjo,2003).
5.
Numbered
Head Together ( NHT ) atau penomoran berfikir
bersama
Guru membagi siswa dalam setiap kelompok terdiri dari 3-5
siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi penomoran 1-5 .Kem udian guru
memberi pertanyaan yang bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam
bentuk kalimat tanya. Siswa menyatukan pandangan terhadap jawaban pertanyaan
itu dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim. Kemudian
guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sama mengacungkan
tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh teman-teman sekelasnya.
Adapun
yang nanti akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah model STAD (Student
Team Achievement Division) karena kerjasama dalam model ini efektif dan
model ini sering digunakan peneliti dalam mengajar hanya saja bentuknya konvensional
yang mana siswa dibiarkan berdiskusi sendiri tanpa bimbingan yang insentif
juga terkadang diskusi itu didominasi oleh seorang siswa saja dan siswa yang
lain menyerahkan sepenuhnya kepada temannya. Dalam pembelajaran cooperative
learning model STAD ini siswa dibagi dalam kelompok kecil yang satu
kelompoknya beranggotakan empat atau lima orang siswa. Untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan guru, dalam pemilihan ketua ketua kelompoknya dibentuk
oleh siswanya sendiri dan setiap siswa memiliki tugas masing-masing. Peran guru
sebagai fasilitator saja dan selama siswa bekerja menyelesaikan tugas guru
aktif membimbing.
B. Sikap Kebersamaan Siswa
Sikap
adalah persepsi atau tanggapan individu dari suatu pandangan atau pendapat yang
diungkapkan melalui gerak tubuh atau mimik untuk melakukan langkah atau
tindakan sebagai reaksi terhadap suatu obyek Purwanto M. Ngalim (1990:141)
“Sikap adalah suatu perbuatan atau tingk ah laku sebagai reaksi atau respon
terhadap suatu rangsangan atau stimulus yang disertai dengan pendirian dan
perasaan orang itu”. Adapun kebersamaan berasal dari kata sama atau tidak
berbeda yang berarti tidak berlainan halnya, rupanya dan sebagainya; sama-sama,
kedua-duanya, semuanya.; bersama-sama, serta, mengikuti. Awalan ke-an adalah
pembentuk kata benda abstrak dari kata keadaan, kata kerja atau kata bilangan,
jadi kata kebersamaan adalah tidak ada perpedaan yang di permasalahkan dari
keberadaan setiap individu. Dengan pengertian lain, setiap individu menerima
kekurangan dirinya sendiri juga dapat menerima kekurangan orang lain. Jadi
siswa di sini dapat berinteraksi dan bekerjasama dengan temannya, baik yang
memiliki latar belakang yang sama maupun latar belakang yang berbeda.
Dalam
kegiatan belajar penekanan terhadap sikap termasuk kedalam kelompok afektif.
Sikap-sikap tersebut diklafisikasikan dalam penerimaan, respon, nilai (value),
organisasi dan pemeranan (characteris). Jadi sikap kebersamaan termasuk
kelompok afektif, diantaranya saling membantu, menolong, bekerjasama,
menghargai, berbagi,dan mampu berinteraksi atau penyesuaian dengan lingkungan.
Sikap
adalah bagian dari kepribadian yang menurut Gagne dan Beliner dalam (Sumantri
Mulyani dan Syaodih Nana, 2006:4.27) menyatakan bahwa “Personality is the
integration of all of a person’s traits, abilit ies, motives as well as his or
her temperament, attitudes, opinions, beliefs, emotional responses, cognitive
styles, character, and moral”. Kepribadian merupakan keterpaduan seluruh
ciri-ciri individu, kemampuan motivasi sebagaimana ditampilkan dalam
temperamen, sikap, pendapat, keyakinan, respon emosional, gaya kognitif,
karakter, dan moral.
Selanjutnya
Nurkancana Wayan dan Sunartana (1986:276) engemukakan bahwa :
Sikap
yang diambil oleh seseorang didasarkan atas nilai-nilai tertentu yang
didukungnya. Guru perlu mengetahui nilai-nilai tertentu yang ada pada anak, dan
perlu mengetahui bagaimana sikap anak terhadap dunia sekitarnya khususnya sekolah.
Apabila ada anak yang mempunyai sikap negatif terhadap sekolah, maka guru perlu
mencari cara-cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif pada anak sehingga
sikap negatif akan berkembang menjadi sikap positif.
Sehubungan
dengan hal di atas peneliti akan mencoba menerapkan metode cooperative
learning untuk menumbuhkan sikap kebersamaan dalam pembelajaran seni
budaya. Kata pembelajaran menurut Gagne Briggs dan Wager (1992:3)
adalah “serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya
proses belajar.” dan kata belajar menurut Witherington (1952:1965). Belajar
merupakan “… Change in personality, manifeshing it self as new pattern of
respond which my by skill, an attitude, a habit, an ability, on under standing”.
Belajar merupakan perubahan kepribadian yang dimanifestasikan dalam
pola-pola respon yang berupa ketrampilan sikap, kebiasaan, pengetahuan atau
pemahaman. Itu berarti bahwa hasil belajar melibatkan seluruh aspek kepribadian
baik aspek kognitif, afektif, maupun spikomotornya.
C. Pembelajaran seni budaya
Seperti
yang telah diuraikan di atas bahwa hasil dari pembelajaran adalah adanya
perubahan sikap pada diri individu. Hal ini berarti dalam pembelajaran seni
budaya harus ada perubahan sikap yang diharapkan pada siswa untuk dapat
mengenali dan memahami makna yang terkandung di dalam seni budaya daerahnya.
Di
dalam pelajaran seni budaya ada empat cabang seni yang bisa dipelajari di
antaranya seni tari, seni musik, seni rupa, dan seni drama. Tetapi pada
kesempatan ini peneliti akan lebih menekankan kepada bagaimana pembelajaran cooperative
learning mampu meningkatkan sikap kebersamaan dalam pembelajaran seni
budaya khususnya dalam seni tari.
John
Dewey dan Herberrt Thelan dalam (Trianto,2007:45) menyatakan bahwa tingkah laku
cooperative dipandang ‘sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang
sebagai labotarium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi.’ Untuk itu dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah harus mencerminkan demokrasi.
Dalam
kegiatan pembelajaran ini ada interaksi antara guru dan siswa yang saling
berhubungan dalam pengembangan aspek prilakunya dan juga dalam mengembangkan
kegiatan yang satu dengan yang lainnya, hal ini merupakan suatu kegiatan
pembelajaran yang aktif.
Dari
pendapat di atas, sekali lagi peneliti meyakini bahwa melalui pembelajaran cooperative
learning dalam pembelajaran seni budaya dapat meningkatkan kebersamaan yang
kuat diantara mereka. Belajar secara kelompok atau belajar bekerjasama dalam
satu tim akan mempermudah dalam pencapaian tujuan baik bagi siswanya maupun
gurunya sendiri. Dalam belajar tidak hanya merupakan kegiatan yang bersifat
menambah ilmu pengetahuan saja tetapi di dalamnya harus ada perubahan sikap
atau tingkah laku. Dengan demikian pembelajaran cooperative learning di
dalamnya tersirat tentang pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan Na Ayudhya Art-ong Jumsai. (2009 :27) bahwa:
Tujuan
dari model pembelajaran nilai-nilai terpadu adalah untuk menolong siswa
mencapai keunggulan manusiawi atau human excellence, bukan pada dimensi
fisik dan mental tetapi juga dimensi rohani. Para murid akan mempunyai karakter
yang baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan yakni kebenaran, kebajikan,
kedamaian, kasih sayang dan tanpa kekerasan.
Jadi
melalui pembelajaran cooperative learning dalam pembelajaran seni budaya
siswa belajar untuk bisa berdampingan dengan teman sebayanya baik di sekolah
maupun di luar sekolah dalam melakukan kegiatan-kegiatan belajar.
Beberapa
pandangan yang mengemukakan pengertian belajar di antaranya “Belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungannya”. (Tabrani, 1994:70) dan “Belajar mer upakan proses pertumbuhan
yang dihasilkan oleh hubungan berkondisi antara stimulus dan respons” (Surakhmad,1984:65).
Dengan adanya perubahan tingkah laku yang lebih baik ini akan mampu memberikan
sumbangan pada pembangunan bangsa. Melalui pembelajaran seni budaya dapat dijadikan
alat atau media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadikan manusia
berbudaya dan memiliki keseimbangan akal pikiran dan perasaan. Sesuai dengan
pendapat Kamaril (2001:1) dalam makalahnya mengajukan konsep, bahwa; “Peran
pendidikan seni yang bersifat multidimensional, multilingual, dan
multicultural pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk pembentukan
kepribadian manusia secara utuh”.
Sekaitan
dengan kutipan di atas, kiranya pendidikan seni memiliki peran untuk
nenumbuhkembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa. Seperti fisik,
perseptual, daya pikir emosional, kreativitas, sosial dan etika. Dengan
menggunakan metode cooperative learning, banyak sekali temuan-temuan
yang mereka dapatkan baik kepribadiannya, wawasannya, latar belakangnya, atau
keberaniannya yang dijadikan sebagai pembelajaran untuk bisa belajar bekerja
sama, saling memahami, saling membantu untuk menjadi kelompok belajar yang
terbaik.
Dalam
hal ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana caranya untuk menciptakan
dan mengatur suasana yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan-kegiatan
belajar, sehingga akan lahir sikap kebersamaan, saling menghargai, saling
membantu, saling menerima kekurangan diri atau orang lain dan kompak untuk
membuat pagelaran tari di kelas sebagai wujud dari kerja sama yang baik dan
bukan pagelaran saja pameran kelas juga bisa dilaksanakan bersama-sama dalam
satu kelas dan satu waktu.
Untuk
itu perlu adanya persiapan dalam mengajar agar suasana belajar yang diharapkan
dapat tercapai, karena tidak semua siswa berminat pada satu cabang seni yang
sama. Begitu juga kemampuan siswa dalam belajar berbeda beda. Ada yang mampu
belajar melalui penglihatan atau pengamatan, melalui pendengaran, membaca, ada
juga mampu belajar apabila melakukan eksperimen sendiri. Dalam hal ini siswa
dituntut untuk mampu berkarya tetapi tidak semua siswa mampu membuat sebuah
karya seni karena kemampuan dan bakat siswa yang berbeda. Ada siswa yang mampu
menari, menyanyi, main musik, berakting, membuat karya seni rupa tetapi ada juga
yang hanya mampu menjadi apresiator aktif, mengemukakan pendapat dalam hal ini
adalah mampu mengamati karya seni yang dituangkan baik melalui tulisan maupun
lisan.
Untuk
itu peneliti mencoba memberi materi ini secara terpadu yang mana dalam
pembelajarannya mampu menampung semua kemampuan siswa, sehingga siswa dalam
belajar merasa tidak dipaksakan. Dalam penelitian ini peneliti mengambil
pelajaran seni tari sebagai bahan penelitiannya karena menurut peneliti seni
tari sangat kental dengan kerja sama dan hubungan sosial dalam kelompoknya
sangat terlihat jelas.
METODE
PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Waktu Penelitian
Tempat
penulis melaksanakan penelitian ini adalah SMP Negeri 2 Muerah Mulia Kecamatan Meurah
Mulia Kabupaten Aceh Utara. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian karena
di lokasi tersebut peneliti merupakan guru pengajar mata pelajaran seni rupa di
kelas VII.
2. Waktu Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2010/2011
dalam waktu 3 bulan mulai bulan April sampai Juni 2010.
3. Subjek Penelitian
Dalam
penelitian ini subjek yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VII3
SMP Negeri 2 Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara tahun pelajaran 2010/2011, yang
berjumlah 32 siswa terdiri dari 16 siswa
putra dan 16 siswa putri. Mengingat populasi yang jumlahnya tidak terlalu
banyak, maka dalam penelitian ini tidak mengambil sampel sebagai wakil dari
populasi, namun peneliti menjadikan seluruh siswa kelas VII3 SMP Negeri
2 Meurah Mulia sebagai subjek penelitian.
B.
Data Dan Sumber Data
Data dalam
penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, catatan lapangan, dan tes yang
dilakukan terhadap siswa kelas VII3 SMP Negeri 2 Meurah Mulia berkaitan
dengan pemahaman peserta didik mengenai mata pelajaran seni budaya setelah digunakan
metode cooperative learning model
STAS. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII3
SMP Negeri 2 Muerah Mulia.
C. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas ada ini ada empat tahapan yang
perlu diperhatikan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi
seperti yang dikemukaakan Lewin, Kemmis dan Mc. Taggart dalam Zuriah Nurul
(2003:73) mengemukakan “penelitian tindakan dipandang sebagai suatu siklus
spiral terdiri atas komponen perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi
yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus-siklus spiral berikutnya”.
Adapun prosedur penelitian adalah sebagai berikut :
1.
Perencanaan
Dalam
rencana tindakan peneliti menetapkan desain pembelajaran dengan menggunakan
metode cooperative learning dengan model STAD. Menyusun strategi
penyampaian dan pengelolaan pembelajaran yang merupakan bahan intervensi yang
meliputi merancang dan menyusun bahan ajar, merancang rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) dan merancang evaluasi. Menyusun metode dan alat pengambil
data yang terdiri dari pedoman observasi. Menyusun perencanaan teknik
pengelolaan data yang didasarkan pada model analisis data kualitatif.
2.
Pelaksanaan
Peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP sambil
mengamati dan mencatat semua data yang diperlukan yang telah tertulis dalam
pedoman penelitian. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenali, mendokumentasikan
semua unsur (baik proses maupun hasil) perubahan-perubahan yang terjadi baik
sebagai akibat dari tindakan maupun sebagai efek sampingnya.
Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai setiap
kelompoknya dan memotivasi siswa untuk selalu bekerja dalam satu tim agar mampu
bersaing dengan kelompok lain.
Untuk siklus pertama pada pertemuan pertama dan kedua siswa dibagi
dalam kelompok kecil yaitu 4-5 orang secara heterogen baik dari segi kemampuan
maupun jenis kelaminnya. Setiap diakhir pertemuan siswa presentasi atau
mendemonstrasikan hasil kerjasamanya. Apabila dalam siklus pertama masih belum
mencapai tujuan maka peneliti akan memperbaiki kembali pada siklus-siklus
berikutnya yang dibagi dalam dalam beberapa pertemuan hingga diperoleh hasil
sesuai dengan yang diharapkan.
3.
Pengamatan (Observing);
Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan format-format pengamatan
yang telah dibuat sebelumnya. Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan oleh guru
yang melaksanakan PTK untuk mengamati apa yang dilakukan siswa selama proses
belajar mengajar berlangsung, mencatat kebersamaan siswa dalam pembelajaran
seni budaya melalui pembelajaran seni tari dan pengamatan juga dilakukan oleh
guru lain yang sama-sama mengajar pelajaran seni budaya untuk mengamati apa
saja yang dilakukan guru dan bagaimana proses pembelajaranmnya sesuai tidak
dengan apa yang tertulis dalam RPP.
4.
Refleksi (Reflecting);
Kagiatan ini dikenal dengan peristiwa perenungan. Peneliti
mengingat kembali kejadian-kejadian apa saja yang terjadi ketika tindakan
berlangsung, dan seluruh siswa diaktifkan dalam kegiatan ini, yaitu diajak
untuk mengingat kembali peristiwa atau kejadian yang telah terjadi disaat
pembelajaran berlangsung pada waktu itu, dan meminta pendapat apa saja yang
dirasakan pada proses berlangsungnya pembelajaran tersebut. Hal ini dilakukan
untuk memperbaiki siklus selanjutnya, dan dalam kegiatan ini guru mengevaluasi
apakah tindakan yang telah dilakukan itu sudah sesuai dengan perencanaan atau
belum dan menganalisis temuan-temuan yang ada pada waktu itu.
Keempat tahapan tersebut merupakan unsur yang membentuk sebuah
siklus dan hasil dari siklus tersebut dibuat laporan sebagai kesimpulan dari
hasil siklus pertama untuk dibuat siklus keduanya yang merupakan perbaikan dari
hasil siklus pertama.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan
bentuk penelitian, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah :
1.
Observasi
Peneliti mencatat semua informasi yang berkaitan dengan masalah
yang diajukan dengan mencatat bentuk tingkah laku siswa, seperti mencatat
bagaimana siswa merespon pelajaran seni budaya dengan metode cooperative
learning,mencatat perkembangan sikap siswa selama pembelajaran seni budaya
dilaksanakan, dan mencatat kegiatan guru. Observasi yang peneliti pilih adalah
observasi berstruktur yaitu variabel tingkah laku atau sikap yang akan diteliti
ditulis dalam sebuah daftar yang nanti akan diisi dengan membubuhkan tanda cek
list (V) pada daftar yang telah disediakan dan mencatat frekwensi pada pedoman
observasi.
Adapun pedoman observasi yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tabel
3.4
Pedoman
Observasi Kebersamaan
Siswa Dalam Pembelajaran Seni Tari
No
|
Indikator
|
Frekuensi
| ||||
BS
|
B
|
C
|
K
|
KS
| ||
1
2
3
4
5
|
Saling membantu dan menolong.
Saling bekerjasama
Saling menghargai
Saling berbagi
Berbaur dengan teman sekelompoknya.
| |||||
Jumlah
skor
Skor
maksimum
%
Pencapaian
Kriteria
keberhasilan
| ||||||
Keterangan indikator
:
1. Saling
membantu atau menolong :
-
Membantu temannya memakaikan properti tari.
-
Membantu temannya yang belum mengusai gerak tari
2. Saling
bekerjasama :
-
Diskusi dalam pembagian tugas kelompok untuk penampilan tari.
-
Menanggapi ide atau pertannyaan teman tentang gerak tari yang
belum dikuasai dan mendiskusikannya.
3. Saling
menghargai :
-
Menghargai atau memberi pujian pada kelompok lain yang sedang mendemonstrasikan
hasil latihan menari.
-
Menanggapi atau memberi pujian pada teman sekelompoknya atas
temuan-temuan gerak tari
4. Saling
berbagi :
-
Saling mengajarkan gerak tari yang belum dikuasai
-
Memberi kesempatan pada temannya untuk mengemukakan pendapat, ide,
atau mendemonstrasikan gerakan tari yang ditemukannya.
5. Berbaur
dengan teman sekelompoknya :
-
Memberi jawaban atas pertannyaan temannya.
-
Memberi bantuan pada teman yang meminta bantuan
-
Menanyakan kepada teman atas persoalan yang belum dimengerti
tentang tari.
Keterangan : BS : Baik sekali (skor 5)
B : Baik (skor 4)
C : Cukup (skor 3)
K : Kurang (skor 2)
KS : Kurang sekali (skor 1)
2.
Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah
tulisan tentang kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlangsung,
berguna untuk pengumpulan data dalam penelitian kualitatif.
E.
Teknik Analisis Data
Teknik
ini merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian. Hal ini dilakukan
untuk menguji kebenaran informasi dan memberi gambaran yang jelas akan sebuah
penelitian. Untuk mengukur sikap kebersamaan siswa dalam pembelajaran seni
budaya dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif di
dapatkan dari hasil observasi sedangkan kualitatif digunakan untuk
mendeskripasikan hasil pengamatan dalam proses belajar mengajar. Tes yang
dipakai dalam tes sikap ini menggunakan skala sikap model likert. Zuriah Nurul
(2001:140) “…Dalam skala sikap obyek sosial berlaku sebagai obyek sikap. Skala
sikap berisi pernyataan-pernyataan sikap (attitude statement)”.
Pernyataan
sikap terdiri atas dua macam yaitu pernyataan favorabel (mendukung atau
memihak pada obyek sikap) dan pernyataanyang tidak favorable (tidak
mendukung obyek sikap).
Kriteria penskorannya :
Dikatakan baik sekali =
5 Dikatakan cukup = 3
Dikatakan baik =
4 Dikatakan kurang = 2
Dikatakan kurang sekali =
1
(Sumber
: Ridwan, 2004:87-88)
Kriteria Interprestasi skor
0% - 20% = Sangat lemah
21% - 40% = Lemah
41% - 60% = Cukup
61% - 80% = Kuat
81% - 100% = Sangat kuat
Adapun
data kuantitatif dengan persentase digunakan untuk menjelaskan data-data
kualitatif.
P = Fo/N X 100
Keterangan : Fo
: Frekuensi observer yang memilih
alternative
N : Jumlah siswa
100 : Bilangan tetap
P : Persentase yang dicari
(Sumber : Nana Sujana, 1989
: 130-131)
Comments
Post a Comment
Silahkan Beri Komentar Anda