MAKALAH (KIMIA): SISTEM KOLOID
SISTEM KOLOID
BAB
I
PENDAHULUAN
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Koloid
Istilah
koloid pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Graham (1861) berdasarkan
pengamatannya terhadap gelatin yang merupakan kristal tetapi sukar mengalami
difusi, padahal umumnya kristal mudah mengalami difusi. Koloid berasal dari
kata “kolia”, yang artinya “lem”.
Misalnya
jika kita
mencampurkan susu (misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu “larut”
tetapi “larutan” itu tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu
tidak memisah dan juga tidak dapat disaring (hasil penyaringan tetap keruh).
Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati
dengan mikroskop ultra, ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel susu
yang tersebar di dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Ukuran
partikel koloid berkisar antara 1 nm – 100 nm. Jadi, koloid tergolong campuran
heterogen dan merupakan sistem dua fasa.
2.2 Komponen
Penyusun Koloid
Sistem
koloid tersusun atas dua komponen, yaitu fasa terdispersi dan medium dispersi
atau fasa pendispersi. Fasa terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus),
sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan air yang
disebut di atas, fasa terdispersi adalah susu, sedangkan medium dispersi adalah
air. Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi disimpulkan dalam
tabel berikut ini.
2.3 Jenis-Jenis
Koloid
Sistem
koloid dapat dikelompokkan berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa
pendispersinya. Koloid yang mengandung fasa terdispersi padat disebut sol.
Jadi, ada tiga jenis sol, yaitu sol padat (padat dalam padat), sol
cair (padat dalam cair), dan sol gas (padat dalam gas). Istilah sol
biasa digunakan untuk menyatakan sol cair, sedangkan sol gas lebih dikenal
sebagai aerosol (aerosol padat). Koloid yang mengandung fasa terdispersi
cair disebut emulsi. Emulsi juga ada tiga jenis, yaitu emulsi padat (cair
dalam padat), emulsi cair (cair dalam cair), dan emulsi gas (cair
dalam gas). Istilah emulsi biasa digunakan untuk menyatakan emulsi cair,
sedangkan emulsi gas juga dikenal dengan nama aerosol (aerosol cair).
Koloid yang mengandung fasa terdispersi gas disebut buih. Hanya ada dua
jenis buih, yaitu buih padat dan buih cair.
Dengan
demikian ada 8 jenis koloid, seperti yang tercantum pada tabel berikut :
A.
Aerosol
Sistem koloid dari
partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol.
Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat; jika
zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair.
-
Contoh
aerosol padat: asap dan debu dalam udara.
-
Contoh
aerosol cair: kabut dan awan.
B.
Sol
Sistem koloid dari
partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Koloid jenis
sol banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri.
-
Contoh
sol: air sungai (sol dari lempung dalam air), sol sabun, sol detergen, sol
kanji, inta tulis, dan cat.
C.
Emulsi
Sistem koloid dari
zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Syarat
terjadinya emulsi ini adalah dua jenis zat cair itu tidak saling melarutkan.
Emulsi dapat digolongkan ke dalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air
(M/A) dan emulsi air dalam minyak (A/M).
-
Contoh
emulsi minyak dalam air (M/A): santan, susu, kosmetik pembersih wajah (milk
cleanser) dan lateks.
-
Contoh
emulsi air dalam minyak (A/M): mentega, mayones, minyak bumi, dan minyak ikan.
D.
Buih
Sistem koloid dari
gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih. Seperti halnya dengan
emulsi, untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih.
-
Misalnya
sabun, deterjen, dan protein.
E.
Gel
Koloid yang setengah
kaku (antara padat dan cair) disebut gel..
-
Contoh:
agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silika.
2.4 Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita
sering menggunakan bahan-bahan kimia berbentuk koloid. Bahan-bahan kimia
tersebut dibuat oleh industri. Koloid merupakan satu-satunya cara untuk
menyajikan suatu campuran dari zat-zat yang tidak saling melarutkan secara
“homogen” dan stabil (pada tingkat makroskopis atau tidak mudah rusak).
a.
Industri
Kosmetik
Bahan kosmetik,
seperti foundation, pembersih wajah, sampo, pelembap badan, deodoran umumnya
berbentuk koloid yaitu emulsi.
b.
Industri
Tekstil
Pewarna tekstil
berbentuk koloid karena mempunyai daya serap yang tinggi, sehingga dapat
melekat pada tekstil.
c.
Industri
Farmasi
Banyak obat-obatan
yang dikemas dalam bentuk koloid agar stabil atau tidak mudah rusak.
d.
Industri
Sabun dan Detergen
Sabun dan detergen
merupakan emulgator untuk membentuk emulsi antara kotoran (minyak) dengan air,
sehingga sabun dan detergen dapat membersihkan kotoran, terutama kotoran dari
minyak.
e.
Industri
Makanan
Banyak makanan
dikemas dalam bentuk koloid untuk kestabilan dalam jangka waktu cukup lama.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan pada bab pembahasan dapat
disimpulkan bahwa :
A.
Koloid
berasal dari kata “kolia”, yang artinya “lem”.
B.
Sistem
koloid tersusun atas dua komponen, yaitu fasa terdispersi dan medium dispersi
atau fasa pendispersi.
C. Jenis koloid ada 8 yaitu :
D.
Koloid
banyak digunakan oleh berbagai industri yang memakai bahan-bahan kimia, hal ini
karena koloid merupakan satu-satunya cara untuk menyajikan suatu campuran dari
zat-zat yang tidak saling melarutkan secara “homogen” dan stabil.
3.2 Saran
Dengan
adanya makalah ini semoga dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya tentang
koloid, sehingga pembaca semua memahami larutan bahan-bahan kimia yang
digunakan dalam berbagai produk dari industri yang menggunakan bahan kimia, dan
juga kita dapat mengontrol pemakaian produk-produk yang mengandung bahan kimia
membahayakan.
DAFTAR PUSTAKA
Budi
Utami dkk, (2009). KIMIA Untuk SMA/MA
Kelas XI Program Ilmu Alam. Penerbit Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan
Nasional.


Comments
Post a Comment
Silahkan Beri Komentar Anda