Laporan Best Practice
DI KELAS VII SMP NEGERI 1 TANAH LUAS
LPTK Universitas Malikussaleh
1. Latar Belakang Kegiatan
Kondisi yang menjadi latar belakang
masalah dari praktik pembelajaran ini yaitu masih belum sempurnanya pembelajaran
yang dilakukan dikelas seperti pembelajaran masih berpusat pada guru, penggunaan
media teknologi dalam pembelajaran masih kurang, pembelajaran yang dilakukan
oleh guru masih monoton, antusias siswa dalam belajar masih kurang serta hasil
belajar siswa rendah.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan
di SMP Negeri 1 Tanah Luas di VII diperoleh informasi bahwa siswa merasa bosan
mengikuti pembelajaran karena guru menggunakan metode konvensional yaitu
ceramah dan penugasan. Sebagian siswa mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang
hanya bersifat teoritis dan menyalin dari buku teks. Guru belum maksimal
menggunakan model pembelajaran inovatif dan variatif. Sehingga praktik ini
penting dibagikan karena sangat memungkin kan permasalahan ini juga dapat
terjadi di sekolah-sekolah lainnya saat kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu,
pengalaman saat melaksanakan best practice ini dapat dijadikan motivasi dan
solusi serta dapat dijadikan referensi bagi teman-teman rekan guru yang
mengalami hal yang sama, sehingga memberikan dampak fositif dan dapat menjadi
acuan untuk membuat inovasi-inovasi pembelajaran kedepannya.
Adapun pelaksanaan best practice ini dilakukan di kelas VII SMP Negeri 1 Tanah Luas dengan jumlah siswa sebanyak 28 orang. Adapun materi pelajaran yang ambil dalam best practice ini yaitu materi segiempat dan perbandingan. Pelaksanaan practice ini dilakukan dengan langkah-langkah sesuai dengan sintek model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu mengorientasi siswa kepada masalah, mengorganisasi siswa, membimbing penyelidikan individu dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
2.
Tujuan Kegiatan
Tujuan penulisan best practice ini adalah sebagai
salah satu upaya meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII SMP Negeri 1
Tanah Luas melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
3.
Manfaat
Kegiatan
Manfaat yang diperoleh dari
kegiatan ini adalah dapat menginspirasi guru untuk mengembangkan materi dan kegiatan
pembelajaran pada sekolahnya. Kemudian mengajak siswa untuk mampu mengembangkan
potensi diri dan mampu memecahkan masalah dan mencari solusi dari permasalahan
tersebut. Berikut merupakan manfaat kegiatan yang diterima oleh siswa, guru,
dan sekolah.
a. Manfaat bagi siswa : siswa akan lebih bergairah dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran, mempermudah siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, terkontrolnya tingkah laku positif siswa, menciptakan suasana kelas yang kondusif dan dinamis pada saat proses pembelajaran berlangsung, meningkatkan hasil belajar siswa, dan menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari ( konstextual)
b. Manfaat bagi guru : memperluas wawasan, meningkatkan professional kerja, meningkatkan peran guru sebagai fasilisator, memberikan motivasi untuk guru-guru yang lainnya, memperbaiki kinerja guru dalarn proses pembelajaran materi perbandingan senilai dan berbalik nilai
c. Bagi Sekolah : menerapkan metode yang dilaksanakan terhadap mata pelajaran yang lain, memanfaatkan metode dengan semaksimal mungkin, serta mengembangkan bakat untuk tercapainya visi dan misi sekolah.
B. Landasan Teori
Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru
menciptakan dan memelihara suasana kegiatan dikelas dengan aktif dan kondusif.
Pengelolaan kelas merupakan segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan
suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi
siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Mulyasa (2017) mengemukakan
bahwa “pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim
pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam
pembelajaran”. Pada hakikatnya tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan
fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial,
intelektual, dan emosional dalam kelas.
Upaya yang dapat dilakukan untuk untuk pengelolaan
kelas yang baik yaitu dengan menerapkan motode, strategi dan model pembelajaran
yang efektif, variatif dan interaktif. Salah satunya yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Menurut Mashuri
dan Ningrum (2019), mengemukakan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat melatih dan mengembangkan kemampuan
untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah autentik dari
kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berfikir tingkat tinggi.
Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka,
negosiasi, dan demokratis.
Ati dan Setiawan (2020) menjelaskan bahwa PBL
merupakan sebuah pendekatan pedagogis yang memungkinkan siswa untuk belajar
sambil terlibat aktif dalam memecahkan masalah. Siswa diberikan kesempatan
untuk memecahkan masalah dalam pengaturan kolaboratif antar siswa, menciptakan
model untuk belajar dan membentuk kebiasaan belajar mandiri melalui latihan dan
refleksi. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga dapat berlangsung
dengan baik. Dalam PBL masalah yang digunakan adalah masalah yang belum jelas
atau masalah yang masih belum terselesaikan. Dengan permasalahan yang masih
mengambang tersebut siswa diharapkan dapat lebih mendalami dan mencari
pokok-pokok permasalahan sehingga dapat mencari jalan keluarnya.
Menurut Mashuri dan Ningrum (2019) mengemukakan bahwa kelebihan atau manfaat dari PBL yaitu kemampuan untuk menjadi pemikir kritis, keterampilan untuk menganalisis dan memecahkan masalah dunia nyata yang kompleks, keahlian dalam menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan sumber informasi, kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan keterampilan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis
1. Situasi
Berdasarkan kondisi yang menjadi latar
belakang masalah dari praktik pembelajaran ini, maka dilakukan identifikasi
penyebab masalah antara lain model
pembelajaran yang digunakan guru yang belum bervariasi, guru masih minim dalam
penggunaan media yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, guru masih
kurang maksimal dalam mengelola kelas sehingga pembelajaran yang dilakukan monoton,
terbatasnya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran seperti LCD dan
speaker, hasil belajar siswa masih banyak dibawah KKM serta rendahnya minat
baca siswa, mindset siswa terhadap mata pelajaran matematika adalah mata
pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Upaya guru untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut dengan memvariasikan penggunaan model dan media dalam
proses pembelajaran. Dalam permasalahan ini, guru menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Selain itu
guru juga menggunakan media dan alat pembelajaran berupa penggunaan video
pembelajaran dari youtube, power point, bahan ajar untuk perbaikan dan
pengayaan sebagai tugas terstruktur.
Praktik pembelajaran ini sangat penting
karena praktik pembelajaran ini dapat dijadikan contoh penerapan pembelajaran
inovatif oleh para guru di sekolah yang ingin memanfaatkan media teknologi
dalam mengajar, pembelajaran bisa berpusat kepada siswa sehingga pengetahuan
dari proses mencoba dalam kelas bisa lebih efektif, praktik pembelajaran ini
bisa memotivasi saya untuk membuat inovasi baru dalam pembelajaran, serta pembelajaran
ini bisa membangkitkan jiwa kritis siswa dalam pemecahan masalah.
Adapun peran dan tanggung jawab penulis dalam
praktik pembelajaran ini adalah sebagai guru matematika di sekolah, saya berkewajiban
memberikan praktek baik dalam penggunaan model ajar yang menarik kepada
guru-guru lain dalam proses belajar mengajar. Dengan penggunaan model yang
efektif, beban guru dalam mengajar bisa berkurang dan selain itu hasil belajar
siswa bisa lebih baik sebagai imbas dari keaktifan siswa dalam mengikuti
pelajaran yang diberikan.
2. Tantangan
Selama proses pembelajaran dengan
pelaksanaan inovasi pembelajaran yaitu pada pelaksanaan siklus 1, didapati atau
terdapat sejumlah tantangan antara
lain masih adany siswa yang masih kurang
aktif dalam kegiatan diskusi karena siswa hanya mengandalkan teman dalam
kelompoknya untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Selain itu, dalam
pelaksanaan pembelajaran siswa masih kurang memiliki niat atau tidak
memiliki kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah yang diberikan dan
masih menganggap masalah yang di pelajari sulit untuk diselesaikan.
Adapun tantangan yang didapati pada
pelaksanaan siklus 2 antara lain masih minimnya alat peraga yang digunakan,
kurangnya interaksi antar siswa dan konsentrasi siswa pada proses pembelajaran,
masih terdapat pelaksanaan pembelajaran yang kurang sesuai dengan rencana aksi
yang telah disusun, masih terpaku dengan siswa yang aktif saja dan melupakan
siswa yang tidak aktif, belum mengkondisikan kelas dengan baik, siswa masih
kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil
diskusi, serta masih kurang dalam hal mengajak siswa untuk menarik kesimpulan
dari pembelajaran yang dilakukan.
Berdasarkan tantangan tersebut diatas, tantangan yang dihadapi guru adalah belajar menjadi fasilitator dalam kelas, mempelajari metode mengajar yang baru dan inovatif, meningkatkan kompetensi dan menciptakan hubungan baik dengan siswa. Penyelesaian tantangan tersebut diselesaikan secara bersama dengan melibatkan kepala sekolah, rekan sejawat guru, siswa, dan orang tua siswa.
Berdasarkan tantangan yang dihadapi
guru, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menambah sumber belajar bagi
siswa, memilih model pembelajaran yang inovatif serta memilih metode
pembelajaran yang interaktif. Adapun strategi yang digunakan guru yaitu guru
memilih dan menerapkan model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL); guru menyiapkan media konkrit antara seperti gambar,
video, poster, serta bahan dan alat yang
kontekstual; guru merancang bahan ajar dan LKPD disesuaikan dengan kemampuan
siswa dan disajikan dengan tampilan yang menarik; guru membuat soal evalusi
dengan memperhatikan KKO dan kemampuan siswa.
Adapun proses yang
dilakukan guru yaitu pada tahap persiapan guru dengan bimbingan dosen dan guru pamong
mendesain pembelajaran yang inovatif dan diperkuat dengan arahan dan masukan
teman-teman satu kelompok. Pada tahap pelaksanaan guru melaksanakan desain
pembelajaran yang telah dibuat sesuai dengan sintaks PBL diamana kegiatan
pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Pada tahap
Evaluasi dan Refleksi, guru merefleksi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan apakah
sudah menyelesaikan permasalahan atau belum serta menentukan rencana tindak
lanjut untuk pembelajaran selanjutnya.
Pihak yang terlibat dalam menyelesaikan tantangan ini yaitu kepala sekolah, teman sejawat dan siswa. Sedangkan sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi yaitu kompetensi Guru, sarana dan rrasarana (LCD, speaker, jaringan) serta media pembelajaran (bahan ajar, LKPD, lembar evaluasi, video pembelajaran, power poitn, media konkrti).
4.
Refleksi Hasil dan dampak
Adapun dampak dari
aksi dari langkah-langkah yang telah dilakukan yaitu meningkatkan kompetensi
guru dalam mendesain pembelajaran yang bermakna, menarik, dan inovatif; meningkatkan
ketrampilan guru dalam mengoperasikan powerpoint dan aplikasi editing; serta meningkatkan
kompetensi guru dalam mengelola kelas agar siswa selalu aktif dalam
pembelajaran; siswa lebih bersemangat saat proses pembelajaran; siswa terlatih
dalam mengkomunikasikan hasil dengan tanggungjawab; siswa mampu menganalisis penerapan
perbandingan senilai dan berbalik nilai dalam kehidupan sehari-hari serta minat
membaca siswa meningkat.
Selain itu, dampak
dari aksi dan dari langkah pelaksanaan yang dilakukan yaitu respon siswa
terhadap pembelajaran menggunakan model Problem
Based Learning (PBL) sangat baik, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih menekankan pada masalah yang
sering dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran yang
dilakukan lebih bermakna bagi siswa, hasil belajar siswa juga meningkat dilihat
dari hasil LKS yang dikerjakan siswa, dimana rata-rata siswa berhasil melewati
KKM yang ditetapkan. Selain itu, penggunaan jaringan internet memudahkan siswa
dalam mencari bahan ajar.
Secara keseluruhan
hasil pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sangat
efektif karena mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Hal ini dapat
terlihat dari kesimpulan setiap pembelajaran, yaitu:
Berdasarkan hasil analisis data,
diperoleh hasil bahwa pada siklus 1 jumlah siswa yang tuntas dalam belajar
(mencapai nilai KKM) sebesar 82,14% (23 siswa) meningkat menjadi 96,4% (27
siswa) pada siklus 2. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran
Problem based learning (PBL) dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Tanah Luas. Selain itu,
dengan menggunakan model pembelajaran Problem
based learning (PBL), minat dan motivasi belajar siswa juga terjadi
peningkatan yang dilihat dari antusias siswa sangat mengikuti pembelajaran.
Adapun
respon orang lain terkait dengan
strategi yang dilakukan atau terhadap kegiatan pembelajaran yaitu kepala
sekolah dan rekan sejawat memberi penguatan positif untuk selalu menerapkan
model dan media pembelajaran yang bervariasi, siswa merasa senang dan bahagia
karena proses pembelajaran menerapkan media yang bervariasi dan menarik
sehingga pemahaman tentang materi mudah dipahami.
Faktor keberhasilan
dari pembelajaran ini ditentukan oleh kesiapan media yang disiapkan, instrumen
dan perangkat ajar yang baik dan tentunya kemampuan guru dalam membawakan
suasana kelas yang menyenangkan. Selain itu siswa juga berperan penting dalam
menjaga ketertiban dalam kelas sehingga pembelajaran bisa berhasil dengan
optimal.
Berdasarkan proses dan aktivitas yang telah saya laksanakan, pembelajaran dengan model dan metode baru lebih menantang dan seru untuk dilaksanakan, hal ini akan berefek baik kepada guru dan juga siswa didalam kelas. Bahkan ketika model pembelajaran yang ingin kita terapkan tidaklah sempurna, hal itu akan menjadi sempurna di dalam kelas sehingga tidak ada yang salah dari mencoba model pembelajaran inovatif dalam kelas selama tujuan yang ingin dicapai adalah untuk kebaikan bersama, sekolah, guru dan siswa.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kegiatan yang telah
dilaksanakan pada aksi siklus 1 dan siklus 2 di kelas VII SMP Negeri 1 Tanah
Luas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model Problem
based learning (PBL) membawa dampak positif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil
belajar siswa, dengan model Problem based learning (PBL) menciptakan lingkungan pembelajaran yang
menyenangkan, memotivasi siswa dan meningkatkan keterlibatan siswa.
Penerapan model Problem
based learning (PBL) dengan perencaan
secara sistematis dan cermat, berorientasi HOTS, mengintegrasikan
PPK, literasi dan kecakapan abad 21 mampu meningkatan kemampuan pemecahan
masalah yang terlihat dari keterampilan mereka dalam mengidentifikasi, menganalisis
dan menyelesaikan masalah. Selain itu, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan
signifikan, terbukti dari hasil evaluasi dan tes yang dilakukan.
Kesuksesan penelitian ini juga dipengaruhi oleh dukungan guru sebagai fasilitator, pemahaman konsep dan penguasaan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran. Temuan positif ini dapat dijadikan acuan bagi pengembangan strategi pembelajaran interaktif di masa mendatang, khususnya dalam konteks mata pelajaran matematika kelas VII. Dengan demikian, penerapan model Problem based learning (PBL) terbukit sebagai model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, memberikan kontribusi positif terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.
E. Daftar Pustaka
Ati, T. P., &
Setiawan, Y. (2020). Efektivitas problem based learning-problem solving
terhadap kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika siswa kelas V.
Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 294-303.
Mashuri, S., Djidu, H., & Ningrum, R. K. (2019). Problem-based learning dalam pembelajaran matematika: Upaya guru untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Pythagoras. Jurnal Pendidikan Matematika, 14(2).
DOKUMENTASI




Comments
Post a Comment
Silahkan Beri Komentar Anda