Laporan Best Practice


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN 
MODEL PEMBELAJARAN  PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
DI KELAS VII SMP NEGERI 1 TANAH LUAS

Yanti Sari Dewi, S.Pd
LPTK Universitas Malikussaleh

A.     Pendahuluan
1.      Latar Belakang Kegiatan

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah dari praktik pembelajaran ini yaitu masih belum sempurnanya pembelajaran yang dilakukan dikelas seperti pembelajaran masih berpusat pada guru, penggunaan media teknologi dalam pembelajaran masih kurang, pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih monoton, antusias siswa dalam belajar masih kurang serta hasil belajar siswa rendah.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Tanah Luas di VII diperoleh informasi bahwa siswa merasa bosan mengikuti pembelajaran karena guru menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan penugasan. Sebagian siswa mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis dan menyalin dari buku teks. Guru belum maksimal menggunakan model pembelajaran inovatif dan variatif. Sehingga praktik ini penting dibagikan karena sangat memungkin kan permasalahan ini juga dapat terjadi di sekolah-sekolah lainnya saat kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, pengalaman saat melaksanakan best practice ini dapat dijadikan motivasi dan solusi serta dapat dijadikan referensi bagi teman-teman rekan guru yang mengalami hal yang sama, sehingga memberikan dampak fositif dan dapat menjadi acuan untuk membuat inovasi-inovasi pembelajaran kedepannya.

Adapun pelaksanaan best practice ini dilakukan di kelas VII SMP Negeri 1 Tanah Luas dengan jumlah siswa sebanyak 28 orang. Adapun materi pelajaran yang ambil dalam best practice ini yaitu materi segiempat dan perbandingan. Pelaksanaan practice ini dilakukan dengan langkah-langkah sesuai dengan sintek model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu mengorientasi siswa kepada masalah, mengorganisasi siswa, membimbing penyelidikan individu dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. 

2.      Tujuan Kegiatan

Tujuan penulisan best practice ini adalah sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII SMP Negeri 1 Tanah Luas melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

3.      Manfaat Kegiatan

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini adalah dapat menginspirasi guru untuk mengembangkan materi dan kegiatan pembelajaran pada sekolahnya. Kemudian mengajak siswa untuk mampu mengembangkan potensi diri dan mampu memecahkan masalah dan mencari solusi dari permasalahan tersebut. Berikut merupakan manfaat kegiatan yang diterima oleh siswa, guru, dan sekolah.

a.       Manfaat bagi siswa : siswa akan lebih bergairah dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran, mempermudah siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, terkontrolnya tingkah laku positif siswa, menciptakan suasana kelas yang kondusif dan dinamis pada saat proses pembelajaran berlangsung, meningkatkan hasil belajar siswa, dan menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari ( konstextual)

b.      Manfaat bagi guru : memperluas wawasan, meningkatkan professional kerja, meningkatkan peran guru sebagai fasilisator, memberikan motivasi untuk guru-guru yang lainnya, memperbaiki kinerja guru dalarn proses pembelajaran materi perbandingan senilai dan berbalik nilai

c.       Bagi Sekolah : menerapkan metode yang dilaksanakan terhadap mata pelajaran yang lain, memanfaatkan metode dengan semaksimal mungkin, serta mengembangkan bakat untuk tercapainya visi dan misi sekolah.

B.  Landasan Teori

    Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara suasana kegiatan dikelas dengan aktif dan kondusif. Pengelolaan kelas merupakan segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Mulyasa (2017) mengemukakan bahwa “pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran”. Pada hakikatnya tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, intelektual, dan emosional dalam kelas.

    Upaya yang dapat dilakukan untuk untuk pengelolaan kelas yang baik yaitu dengan menerapkan motode, strategi dan model pembelajaran yang efektif, variatif dan interaktif. Salah satunya yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Menurut Mashuri dan Ningrum (2019), mengemukakan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah autentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berfikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, dan demokratis.

    Ati dan Setiawan (2020) menjelaskan bahwa PBL merupakan sebuah pendekatan pedagogis yang memungkinkan siswa untuk belajar sambil terlibat aktif dalam memecahkan masalah. Siswa diberikan kesempatan untuk memecahkan masalah dalam pengaturan kolaboratif antar siswa, menciptakan model untuk belajar dan membentuk kebiasaan belajar mandiri melalui latihan dan refleksi. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga dapat berlangsung dengan baik. Dalam PBL masalah yang digunakan adalah masalah yang belum jelas atau masalah yang masih belum terselesaikan. Dengan permasalahan yang masih mengambang tersebut siswa diharapkan dapat lebih mendalami dan mencari pokok-pokok permasalahan sehingga dapat mencari jalan keluarnya.

    Menurut Mashuri dan Ningrum (2019) mengemukakan bahwa kelebihan atau manfaat dari PBL yaitu kemampuan untuk menjadi pemikir kritis, keterampilan untuk menganalisis dan memecahkan masalah dunia nyata yang kompleks, keahlian dalam menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan sumber informasi, kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan keterampilan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis

C.    Pembahasan
1.      Situasi

Berdasarkan kondisi yang menjadi latar belakang masalah dari praktik pembelajaran ini, maka dilakukan identifikasi penyebab masalah antara lain model pembelajaran yang digunakan guru yang belum bervariasi, guru masih minim dalam penggunaan media yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, guru masih kurang maksimal dalam mengelola kelas sehingga pembelajaran yang dilakukan monoton, terbatasnya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran seperti LCD dan speaker, hasil belajar siswa masih banyak dibawah KKM serta rendahnya minat baca siswa, mindset siswa terhadap mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang sulit dan menakutkan.

Upaya guru untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan memvariasikan penggunaan model dan media dalam proses pembelajaran. Dalam permasalahan ini, guru menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Selain itu guru juga menggunakan media dan alat pembelajaran berupa penggunaan video pembelajaran dari youtube, power point, bahan ajar untuk perbaikan dan pengayaan sebagai tugas terstruktur.

Praktik pembelajaran ini sangat penting karena praktik pembelajaran ini dapat dijadikan contoh penerapan pembelajaran inovatif oleh para guru di sekolah yang ingin memanfaatkan media teknologi dalam mengajar, pembelajaran bisa berpusat kepada siswa sehingga pengetahuan dari proses mencoba dalam kelas bisa lebih efektif, praktik pembelajaran ini bisa memotivasi saya untuk membuat inovasi baru dalam pembelajaran, serta pembelajaran ini bisa membangkitkan jiwa kritis siswa dalam pemecahan masalah.

Adapun peran dan tanggung jawab penulis dalam praktik pembelajaran ini adalah sebagai guru matematika di sekolah, saya berkewajiban memberikan praktek baik dalam penggunaan model ajar yang menarik kepada guru-guru lain dalam proses belajar mengajar. Dengan penggunaan model yang efektif, beban guru dalam mengajar bisa berkurang dan selain itu hasil belajar siswa bisa lebih baik sebagai imbas dari keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran yang diberikan.

 2.      Tantangan

Selama proses pembelajaran dengan pelaksanaan inovasi pembelajaran yaitu pada pelaksanaan siklus 1, didapati atau terdapat  sejumlah tantangan antara lain  masih adany siswa yang masih kurang aktif dalam kegiatan diskusi karena siswa hanya mengandalkan teman dalam kelompoknya untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Selain itu, dalam pelaksanaan pembelajaran siswa masih kurang memiliki niat  atau tidak  memiliki kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah yang diberikan dan masih menganggap masalah yang di pelajari sulit untuk diselesaikan.

Adapun tantangan yang didapati pada pelaksanaan siklus 2 antara lain masih minimnya alat peraga yang digunakan, kurangnya interaksi antar siswa dan konsentrasi siswa pada proses pembelajaran, masih terdapat pelaksanaan pembelajaran yang kurang sesuai dengan rencana aksi yang telah disusun, masih terpaku dengan siswa yang aktif saja dan melupakan siswa yang tidak aktif, belum mengkondisikan kelas dengan baik, siswa masih kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil diskusi, serta masih kurang dalam hal mengajak siswa untuk menarik kesimpulan dari pembelajaran yang dilakukan.

Berdasarkan tantangan tersebut diatas, tantangan yang dihadapi guru adalah belajar menjadi fasilitator dalam kelas, mempelajari metode mengajar yang baru dan inovatif, meningkatkan kompetensi dan menciptakan hubungan baik dengan siswa. Penyelesaian tantangan tersebut diselesaikan secara bersama dengan melibatkan kepala sekolah, rekan sejawat guru, siswa, dan orang tua siswa.

3.      Aksi

Berdasarkan tantangan yang dihadapi guru, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menambah sumber belajar bagi siswa, memilih model pembelajaran yang inovatif serta memilih metode pembelajaran yang interaktif. Adapun strategi yang digunakan guru yaitu guru memilih dan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL); guru menyiapkan media konkrit antara seperti gambar, video, poster,  serta bahan dan alat yang kontekstual; guru merancang bahan ajar dan LKPD disesuaikan dengan kemampuan siswa dan disajikan dengan tampilan yang menarik; guru membuat soal evalusi dengan memperhatikan KKO dan kemampuan siswa.

Adapun proses yang dilakukan guru yaitu pada tahap persiapan guru dengan bimbingan dosen dan guru pamong mendesain pembelajaran yang inovatif dan diperkuat dengan arahan dan masukan teman-teman satu kelompok. Pada tahap pelaksanaan guru melaksanakan desain pembelajaran yang telah dibuat sesuai dengan sintaks PBL diamana kegiatan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Pada tahap Evaluasi dan Refleksi, guru merefleksi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan apakah sudah menyelesaikan permasalahan atau belum serta menentukan rencana tindak lanjut untuk pembelajaran selanjutnya.

Pihak yang terlibat dalam menyelesaikan tantangan ini yaitu kepala sekolah, teman sejawat dan siswa. Sedangkan sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi yaitu  kompetensi Guru, sarana dan rrasarana (LCD, speaker, jaringan) serta media pembelajaran (bahan ajar, LKPD, lembar evaluasi, video pembelajaran, power poitn, media konkrti).

4.      Refleksi Hasil dan dampak

Adapun dampak dari aksi dari langkah-langkah yang telah dilakukan yaitu meningkatkan kompetensi guru dalam mendesain pembelajaran yang bermakna, menarik, dan inovatif; meningkatkan ketrampilan guru dalam mengoperasikan powerpoint dan aplikasi editing; serta meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola kelas agar siswa selalu aktif dalam pembelajaran; siswa lebih bersemangat saat proses pembelajaran; siswa terlatih dalam mengkomunikasikan hasil dengan tanggungjawab; siswa mampu menganalisis penerapan perbandingan senilai dan berbalik nilai dalam kehidupan sehari-hari serta minat membaca siswa meningkat.

Selain itu, dampak dari aksi dan dari langkah pelaksanaan yang dilakukan yaitu respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) sangat baik, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih menekankan pada masalah yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran yang dilakukan lebih bermakna bagi siswa, hasil belajar siswa juga meningkat dilihat dari hasil LKS yang dikerjakan siswa, dimana rata-rata siswa berhasil melewati KKM yang ditetapkan. Selain itu, penggunaan jaringan internet memudahkan siswa dalam mencari bahan ajar.

Secara keseluruhan hasil pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sangat efektif karena mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Hal ini dapat terlihat dari kesimpulan setiap pembelajaran, yaitu:

Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil bahwa pada siklus 1 jumlah siswa yang tuntas dalam belajar (mencapai nilai KKM) sebesar 82,14% (23 siswa) meningkat menjadi 96,4% (27 siswa) pada siklus 2. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran Problem based learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Tanah Luas. Selain itu, dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning (PBL), minat dan motivasi belajar siswa juga terjadi peningkatan yang dilihat dari antusias siswa sangat mengikuti pembelajaran.

Adapun respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan atau terhadap kegiatan pembelajaran yaitu kepala sekolah dan rekan sejawat memberi penguatan positif untuk selalu menerapkan model dan media pembelajaran yang bervariasi, siswa merasa senang dan bahagia karena proses pembelajaran menerapkan media yang bervariasi dan menarik sehingga pemahaman tentang materi mudah dipahami.

Faktor keberhasilan dari pembelajaran ini ditentukan oleh kesiapan media yang disiapkan, instrumen dan perangkat ajar yang baik dan tentunya kemampuan guru dalam membawakan suasana kelas yang menyenangkan. Selain itu siswa juga berperan penting dalam menjaga ketertiban dalam kelas sehingga pembelajaran bisa berhasil dengan optimal.

Berdasarkan proses dan aktivitas yang telah saya laksanakan, pembelajaran dengan model dan metode baru lebih menantang dan seru untuk dilaksanakan, hal ini akan berefek baik kepada guru dan juga siswa didalam kelas. Bahkan ketika model pembelajaran yang ingin kita terapkan tidaklah sempurna, hal itu akan menjadi sempurna di dalam kelas sehingga tidak ada yang salah dari mencoba model pembelajaran inovatif dalam kelas selama tujuan yang ingin dicapai adalah untuk kebaikan bersama, sekolah, guru dan siswa.

D.     Kesimpulan

Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan pada aksi siklus 1 dan siklus 2 di kelas VII SMP Negeri 1 Tanah Luas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model Problem based learning (PBL) membawa dampak positif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa, dengan model Problem based learning (PBL) menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, memotivasi siswa dan meningkatkan keterlibatan siswa.

Penerapan model Problem based learning (PBL) dengan perencaan secara sistematis dan cermat, berorientasi HOTS, mengintegrasikan PPK, literasi dan kecakapan abad 21 mampu meningkatan kemampuan pemecahan masalah yang terlihat dari keterampilan mereka dalam mengidentifikasi, menganalisis dan menyelesaikan masalah. Selain itu, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan signifikan, terbukti dari hasil evaluasi dan tes yang dilakukan.

Kesuksesan penelitian ini juga dipengaruhi oleh dukungan guru sebagai fasilitator, pemahaman konsep dan penguasaan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran. Temuan positif ini dapat dijadikan acuan bagi pengembangan strategi pembelajaran interaktif di masa mendatang, khususnya dalam konteks mata pelajaran matematika kelas VII. Dengan demikian, penerapan model Problem based learning (PBL) terbukit sebagai model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar  siswa, memberikan kontribusi positif terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.

E.     Daftar Pustaka

Ati, T. P., & Setiawan, Y. (2020). Efektivitas problem based learning-problem solving terhadap kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika siswa kelas V. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 294-303.

Mashuri, S., Djidu, H., & Ningrum, R. K. (2019). Problem-based learning dalam pembelajaran matematika: Upaya guru untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Pythagoras. Jurnal Pendidikan Matematika, 14(2).


DOKUMENTASI 







Comments

Popular posts from this blog

RPP : MATEMATIKA KURIKULUM 2013 MATERI EKSPONEN DAN LOGARITMA

RPP K-13 : SENI BUDAYA SMK/SMA (MATERI : SENI RUPA 3 DIMENSI)

RPP K-13 SEJARAH INDONESIA (MATERI : Perang Melawan Kolonialisme)