MAKALAH : APPENDICITIS (USUS BUNTU)
MAKALAH
APPENDICITIS (USUS BUNTU)
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usus buntu, sesuai
dengan namanya bahwa ini merupakan benar-benar saluran usus yang ujungnya
buntu. Usus ini besarnya kira-kira sejari kelingking, terhubung pada usus besar.
Usus buntu terletak di perut bagian kanan bawah. Usus yang buntu tidak memiliki
fungsi tapi saat tersumbat, usus yang buntu dapat membahayakan dan bisa
berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Usus buntu dalam
bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis, Organ ini ditemukan pada
manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Pada awalnya organ ini
dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini
diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara
aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana
memiliki/berisi kelenjar limfoid.
Seperti organ-organ
tubuh yang lain, appendiks atau usus buntu ini dapat mengalami kerusakan
ataupun ganguan serangan penyakit. Hal ini yang sering kali kita kenal dengan
nama Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis). Penyakit radang usus buntu ini
umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa
kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti.
Apendicitis
merupakan penyakit yang biasa dikenal oleh masyarakat awam sebagai penyakit
usus buntu. Apendisitis akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering
ditemukan pada anak-anak dan remaja. Apendisitis akut merupakan masalah
pembedahan yang paling sering dan apendektomi merupakan salah satu operasi
darurat yang sering dilakukan diseluruh dunia. Faktor potensialnya adalah diet
rendah serat dan konsumsi gula yang tinggi, riwayat keluarga serta infeksi.
Kejadian apendisitis 1,4 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan
wanita. Insidensi apendisitis lebih tinggi pada anak kecil dan lansia (Smeltzer
et al, 2002)
B.
Rumusan dan
Tujuan Masalah
Adapun rumusan dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan pengertian usus buntu, menjelaskan patofisiologi usus buntu, menjelaskan epidemiologi usus buntu, menjelaskan Etiologi usus buntu, menjelaskan Patogenesis usus buntu, menjelaskan Faktor Risiko usus buntu, menjelaskan Tanda-Tanda dan Gejala Klinis usus buntu, menjelaskan Diagnosis usus buntu, menjelaskan Prognosis usus buntu, menjelaskan Tatalaksana Terapi usus buntu.dan menjelaskan Obat-Obat Apendisitis.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Usus Buntu
Usus buntu (Appendik) merupakan saluran usus yang ujungnya
buntu. Usus ini besarnya kira-kira sejari kelingking, terhubung pada usus besar
yang letaknya berada di perut bagian kanan bawah. Ukuran apendiks pada orang
dewasa berkisar antara 6 sampai 7 cm panjang.
Usus buntu atau
sekum (Bahasa Latin: caecus,
"buta") dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung
pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini
ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar
herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki
sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing. Pada awalnya
organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi
saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan
secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) di
mana memiliki/berisi kelenjar limfoid. Seperti organ tubuh yang lainnya, usus
buntu tentu dapat mengalami gangguan dan penyakit tersebut dikenal sebagai
Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis).
Apendicitis
adalah infeksi dan pembengkakan pada usus buntu yang dapat menurunkan suplai
darah ke dinding usus buntu. Hal ini menyebabkan kematian jaringan dan usus
buntu bisa pecah atau meledak sehingga mengakibatkan bakteri dan tinja masuk ke
dalam perut. Kejadian ini disebut usus buntu yang pecah. Sebuah usus buntu yang
pecah bisa menyebabkan peritonitis atau disebut infeksi perut. Apendisitis
paling sering terjadi pada usia 10 sampai 30 tahun yang merupakan alasan umum
untuk operasi pada anak-anak, dan merupakan bedah emergensi yang paling umum
terjadi pada kehamilan.
Apendicitis
adalah saluran usus yang terjadinya pembusukan dan menonjol dari bagian awal
usus besar atau seku. Penyakit usus buntu timbul ketika usus buntu tersumbat
benda keras di dalam tinja atau bengkaknya cabang kelenjar getah bening,
apabila tidak ditangani secara serius maka hal tersebut dapat memperburuk
kondisi penderita. (Sjamsuhidajat. Wim de jong. 2005).
Penyakit
usus buntu terdapat di seluruh dunia dan dapat menyerang semua orang, baik pria
maupun wanita. Penyakit usus buntu disebabkan oleh bakteri dan Makan cabai
bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna
dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asing.
Gejala usus buntu umumnya mengalami sakit perut, terutama dimulai di sekitar
pusar dan bergerak kesamping kanan bawah, penurunan nafsu makan, mual dan
muntah, serta diare. (Sjamsuhidajat. Wim de jong. 2005. ).
B.
Patofisiologi
Secara
klinis, apendicitis ini dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
1. Apendisitis akut
Apendisitis yang
terjadi dengan diawali oleh nyeri periumbilikal
yang diikuti dengan rasa mual dan muntah sehingga bisa menyebabkan anoreksia, dan peningkatan nyeri lokal
pada perut bagian kanan bawah. Lamanya rasa nyeri ini berlangsung selama 24
sampai 36 jam. Penyebab apendisitis akut ini adalah adanya obstruksi apendiks
dan infeksi hematogen. (Farmasiku, 2019).
Obstruksi
tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mengalami sumbatan, sehingga semakin
lama, mukus tersebut semakin banyak. Namun, elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan di mana akan menyebabkan peningkatan tekanan intralumen
(Nursaidah, 2009)
2. Apendisitis Kronis
Apendisitis
kronis terjadi apabila ada rasa nyeri di perut bagian kanan bawah yang tidak
berat, tetapi bisa menyebabkan aktivitas penderita terganggu dan lebih dari dua
minggu. Nyeri yang dirasakan dapat berlangsung secara terus-menerus dan bisa
bertambah berat parah kemudian mereda lagi (Sjamsuhidajat et al., 2005).
C.
Epidemiologi
Kejadian
apendisitis banyak terjadi di negara maju dan di negara yang sedang berkembang
dimana diet dipengaruhi oleh gaya barat. Kejadian apendisitis lebih rendah
terjadi pada pola makan yang mengonsumsi serat yang tinggi. Secara keseluruhan,
kadar kematian 0,2-0,8% diakibatkan oleh komplikasi penyakit tersebut apabila
tidak dilakukan intervensi pembedahan. Kadar kematian meningkat sebanyak 20%
pada pasien yang berusia lebih 70 tahun karena penundaan diagnostik dan
terapetik. Kadar perforasi lebih tinggi pada pasien yang berusia lebih muda
dari 18 tahun dan pasien yang lebih tua dari 50 tahun, berkemungkinan karena
penundaan dalam diagnose.
Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendisitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon (Smeltzer, et al., 2005)
Penelitian
epidemiologi menunjukkan peranan kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah serat
dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya penyakit apendisitis. Tinja yang
keras dapat menyebabkan terjadinya konstipasi. Kemudian konstipasi akan
menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua
ini akan mempermudah timbulnya apendicitis.
D.
Etiologi
Etiologi
dan patogenesis apendisitis masih belum jelas. Namun, obstruksi lumen apendiks,
oleh sebab apapun, dengan hasil penggelembungan dan gangguan aliran darah,
masih tetap diperkirakan faktor utama dalam patogenesis apendisitis. Faktor
lain yang berpengaruh termasuk makanan yang rendah serat, bakteri dan infeksi
kuman.
Apendicitis
umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks.
Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras
(fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing
dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan.
Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit
dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang paling sering
terjadi. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendicitis adalah ulserasi
mukosa apendiks oleh parasit E.
histolytica.
Faktor
yang paling berperan dalam etiologi terjadinya apendisitis akut adalah obstruksi lumen apendiks. Keadaan
obstruksi akan mengakibatkan terjadinya proses inflamasi. Terdapat beberapa
peningkatan tekanan dari cairan intraluminal, kongesti dinding apendiks serta
obstruksi vena dan arteri yang nantinya akan menimbulkan keadaan hipoksia
sehingga mengakibatkan infeksi bakteri (Farmasiku, 2019).
Tabel I. Bakteria yang sering terisolasi pada
apendisitis perforasi
|
Tipe Bakteria |
Pasien (%) |
|
Bacteroide
fragilis |
80 |
|
Bacteroides
thetaoitaomicron |
61 |
|
Bilophila
wadworthia |
55 |
|
Peptostreptococcus
spp. |
46 |
|
Escheria coli |
77 |
|
Streptococcus
viridans |
43 |
|
Group D
streptococcus |
27 |
|
Pseudomonas
aeruginosa |
18 |
Flora pada apendiks normal mirip dengan usus besar yang mempunyai berbagai jenis bakteri aerobik dan anaerobik. Escherichia coli, Streptococcus viridans, dan Bacteriodes dan Pseudomonas spp. adalah diantara beberapa jenis bakteri yang sering terisolasi dan akan terbiak pada organ dalam yang lain (Gladman et al., 2004).
E.
Patogenesis
Patologi
apendicitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan
dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir)
setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen
apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama mukus makin bertambah banyak
dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen. Namun, karena
keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut menyebabkan
terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan
menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan timbulnya edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis
akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.
Jika
sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan
mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan
bawah. Keadaan ini disebut dengan apendicitis supuratif akut.
Apendisitis
diinisiasi oleh obstruksi lumen yang disebabkan oleh tinja atau fekalith. Hal
ini menjelaskan tentang epidemiologi yang mengatakan apendisitis berasosiasi
dengan asupan serat makanan yang rendah (Philip, 2007). Penyebab ulkus masih
tidak diketahui meskipun etiologi virus telah dipostulatkan. Infeksi organisme
Yersinia dapat menyebabkan penyakit, karena merupakan komplemen tinggi titer
antibodi fiksasi yang ditemukan pada 30% kasus positif usus buntu. Reaksi
inflamasi yang disertai dengan ulserasi cukup untuk menghalangi lumen usus
buntu kecil bahkan kelihatan tidak jelas. Obstruksi paling sering disebabkan
oleh fekalith, yang dihasilkan dari akumulasi dan penebalan logam tinja sekitar
serat sayuran.
Kasus
usus buntu dari obstruksi lumen apendiks menyebabkan infeksi dan peradangan.
Sebuah fekalith yang menghambat, sering terlihat setelah dilakukan operasi.
Awalnya, usus buntu menyebabkan nyeri peri-pusar, mual dan muntah. Hal ini
karena saraf visceral dari struktur pertengahan usus menyebabkan nyeri ke
daerah peri-pusar dan merangsang pusat muntah. Ketika peradangan berkembang
bisa mencapai luar usus buntu, dari serabut saraf peritoneum parietal membawa
informasi spasial yang tepat ke korteks somatosensori dan nyeri terlokalisasi
pada fosa iliak kanan, melapisi usus buntu inflam. Setelah diobati, usus buntu
dapat berkembang membentuk abses apendiks atau pecah ke dalam rongga peritoneum,
menyebabkan peritonitis.
Nyeri
dapat berbeda untuk setiap orang, karena usus buntu bisa terjadi pada organ
yang berbeda. Hal ini dapat membingungkan dan sulit untuk mendiagnosa
apendisitis. Paling sering sakit dimulai di sekitar pusar dan kemudian pindah
ke perut bagian bawah kanan. Nyeri yang dirasakan bisa lebih terasa sakitnya
apabila berjalan atau berbicara. Selama kehamilan letak usus buntu lebih tinggi
pada bagian perut, sehingga rasa sakit mungkin bisa datang dari perut bagian
atas. Pada orang tua, gejala sering tidak terlihat karena ada sedikit
pembengkakan.
Bedah
apendisitis sering disebut juga dengan apendektomi. Apendektomi merupakan
kedaruratan bedah paling sering di negara-negara barat. Jarang terjadi pada
usia di bawah 2 tahun dan banyak pada dekade kedua (10-19 tahun) atau ketiga
(20-29 tahun), akan tetapi dapat terjadi pada semua usia.
F.
Faktor Risiko
Risiko
terkena apendisitis juga dapat berubah dari waktu ke waktu tergantung pada usia
dan gaya hidup seseorang. Terdapat beberapa faktor risiko yang dilihat pada
pasien apendisitis secara umumnya seperti berikut:
1.
Umur
Apendisitis
dapat terjadi pada semua kelompok umur tetapi lebih umum pada usia 10 hingga 30
tahun.
2.
Jenis
kelamin
Lelaki
lebih dominan, dengan rasio laki-laki : perempuan (1,4:1) dan secara
menyeluruh, risiko seumur hidup untuk laki-laki adalah 8,6% dan perempuan 6,7%.
3.
Diet
Individu
yang kurang asupan makanan berserat dan kaya dalam asupan karbohidrat berisiko
tinggi untuk terkena apendisitis.
4.
Genetika
Posisi
tertentu usus buntu yang merupakan predisposisi untuk infeksi, berjalan dalam
keluarga tertentu. Memiliki riwayat keluarga apendisitis dapat meningkatkan
risiko anak untuk mendapat penyakit.
5.
Infeksi
Infeksi
gastrointestinal seperti Amebiasis, Gastroenteritis Bakteria, Beguk,
Coxsackievirus B dan Adenovirus cenderung untuk individu tersebut terkena
apendisitis.
G.
Tanda-Tanda dan
Gejala Klinis
Gejala
klinis apendisitis yang dipresentasi oleh pasien tergantung pada lokasi
apendiks, pada tingkat patologi apendiks yang mengalami inflamasi dan pada umur
serta jenis kelamin pasien. Walaupun pada dasarnya apendiks timbul dari dinding
posteromedial usus besar, apendix juga terdapat pada retrocecal, subcecal,
retroileal, preileal, panggul dan bagian bawah panggul. Sebagai akibat, lokasi
yang bervariasi ini bisa mempengaruhi presentasi klinis pada pasien dengan
sangkaan apendisitis dan perbedaan diagnosis. Gejala klinis apendisitis yang
paling akurat adalah nyeri pada kuadran kanan bawah, rigiditas dan periumbilical
yang bermigrasi ke kuadran kanan bawah.
Berikut
adalah keluhan yang dapat dijumpai pada pasien apendisitis sebagai berikut :
1)
Nyeri
pada abdomen atau bagian perut
Keluhan ini
merupakan keluhan utama pasien. Nyeri sering terasa pada bagian tengah abdomen
karena stimulasi aksi yang mendalam pada bagian tengah kanal alimentari. Secara
umum, nyeri terasa apabila terjadi obstruksi atau penggelembungan, tetapi nyeri
bisa menjadi lebih konstan pada kasus yang non-obstruksi. Nyeri bertambah parah
dan beralih ke arah kanan iliac fossa apabila proses inflamatori berlanjutan
dan melibatkan parietal peritoneum.
Rasa sakit yang
sering dirasai adalah di sekitar epigastrum, daerah periumbilikus, diseluruh
abdomen atau kuadran kanan bawah dan setelah 4 jam biasanya rasa nyeri itu
sedikit demi sedikit menghilang dan beralih ke kuadran kanan bawah dan rasa
sakitnya itu menetap dan bertambah berat dan semakin dirasakan sakitnya apabila
penderita bergerak dan batuk.
2)
Mual
dan Muntah
Mual dan muntah
yang berlarutan, 1-3 kali sehari. Mual dan muntah ini dikarenakan obstruksi
usus kecil dan juga infeksi virus gastroenteritis. Keluhan apendisitis biasanya
bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan
dengan muntah.
3)
Demam
Demam yang tidak
terlalu tinggi antara 37,5 dan 38,8⁰C yang disertai
dengan kekakuan otot.
4)
Lain-lain
Pada beberapa kasus, juga muncul gejala seperti diare dan konstipasi. Pada bayi dan anak-anak, nyeri yang terjadi akan bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada pasien lanjut usia, gejala-gejalanya tidak senyata pasien yang lebih muda. Pada wanita hamil, rasa nyeri terasa lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya. Tabel di bawah ini menerangkan gejala klinis dan tanda-tanda yang dirasakan pada anak, prasekolah dan remaja.
Tabel II. Gejala Klinis Apendisitis
|
Golongan Umur |
Gejala Klinis |
Tanda-tanda yang ditemukan |
|
Anak |
Muntah, diare, tidak nyaman
sehinggakan menangis terus, rasa kurang selesa pada panggul kanan |
Peningkatan temperatur, nyeri perut |
|
Prasekolah |
Nyeri perut, demam, muntah, “hamburger
sign”, muntah yang disertai nyeri |
Kuadran kanan bawah lebih sering nyeri |
|
Usia sekolah dan remaja |
Nyeri periumbilikalis yang
melokalisasi ke kuadran kanan bawah, berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia |
Nyeri bagian kuadran kanan bawah,
nyeri yang terasa dan kemudian mereda lagi |
H.
Diagnosis
Diagnosis
apendisitis dapat dilakukan mendasari pada gambaran klinis dan temuan pada
hasil radiografis. Antara diagnosis yang sering dilakukan adalah seperti:
1.
Gejala/keluhan
Utama
Rasa nyeri di sekitar epigastrum
menjalar ke perut kanan bawah. Nyeri yang dirasakan berlaku selama beberapa jam.
Keluhan yang menyertai antara lain, mual dan muntah yang bisa menyebabkan
anoreksia, serta panas.
2.
Pemeriksaan
fisik
Rasa nyeri lepas tekan dilakukan dengan
menekan perlahan pada bagian perut menggunakan satu jari. Hal ini dilakukan
untuk mendekteksi bagian mana yang dirasakan nyeri. Apabila diminta supaya
batuk, pasien bisa menyatakan dengan jelas di mana rasa nyerinya, sehingga, itu
merupakan tanda adanya iritasi pada bagian peritoneal. Ketuk dengan perlahan juga
bisa menimbulkan rasa nyeri.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan,
meliputi:
1)
Inspeksi
Penderita berjalan membungkuk sambil
memegang perutnya, terutama bagian kanan bawah. Perut kembung sering terlihat
pada penderita dengan komplikasi perforasi. Apabila diminta supaya batuk,
penderita bisa menyatakan dengan jelas di mana rasa nyerinya, sehingga itu
merupakan tanda adanya iritasi pada bagian peritoneal.
2)
Palpasi
Nyeri lepas tekan (rebound tenderness)
adalah nyeri pada abdomen di kuadran bagian kanan bawah, setelah nyeri tersebut
dilepaskan.
3)
Perkusi
Rasa nyeri yang dialami apabila diketok
dengan perlahan di bagian abdomen.
3.
Pemeriksaan
Laboratorium
Terdapat tiga cara untuk mendapatkan
pemeriksaan laboratorium yaitu:
1)
Hematologi
Moderat leukosit (10,000–20,000/µL) dengan neutrofilia adalah biasa.
Mikroskopik hematuria dan pyuria hadir pada satu per empat pasien.
2)
Urinalisis
Urinalisis adalah normal, walaupun pasien dengan retrocaecal atau apendisitis
pelvik berpotensi untuk punya leukosit atau sel darah merah dalam urin
(disebabkan iritasi kemih kencing atau ureter yang berdekatan dengan
inflamasi). Mikroskopi urin akan mengidentifikasi jalan perkencingan yang
terinfeksi sekiranya terdapat tanda-tanda klinis yang tidak jelas.
3)
Tes
kehamilan Tes kehamilan adalah vital pada setiap wanita yang bisa mereproduksi
supaya tidak termasuk pada penyebab ginecologis.
4.
Gambaran
Radiologi
Terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan untuk mendapatkan gambaran radiologi, yaitu seperti berikut:
1)
Computed
tomography (CT) scanning
Metode ini dapat digunakan dalam
mendiagnosis diameter apendiks, lokasi apendiks (orthotopic, retrocecal,
medoceliac atau pelvic), peningkatan dinding apendiks, lemak yang terkumpul,
dan keberadaan apendikolith.
2)
Magnetic
resonance imaging (MRI)
Sembilan visual MRI telah pun di teliti:
diameter apendiks >7 mm, apendikolith, infiltrasi lemak peri-apendiks,
cairan peri-apendiks, tidak adanya gas di apendiks, kerusakan dinding apendiks,
pembatasan difusi pada dinding apendiks, lumen atau fokal pengumpulan cairan.
3)
Ultrasonography
Metode ini sangat membantu dalam untuk
mendeteksi jaringan tubuh yang bernanah atau yang berkumpul (abscess or mass),
atau patologi non-apendiks, namun tidak bisa diandalkan untuk menunjukkan
apendisitis yang rumit.
4)
X-rays (Foto sinar X)
Metode ini tidak perlu dilakukan pada
pasien apendisitis, kecuali pada kondisi tertentu seperti keterangan patologi
abdomen yang membingungkan setelah diobservasi. Metode ini dapat langsung
memvisualisasikan sejumlah gas bebas yang keluar dari apendiks yang bolong
(apendisitis perforasi) dan tidak tampak terjadi kelainan spesifik pada foto
polos abdomen, karena menggambarkan adanya fekalith pada apendiks.
Pada
anamnesis penderita akan mengeluhkan nyeri atau sakit perut. Ini terjadi karena
hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh saluran
cerna, sehingga nyeri viseral dirasakan pada seluruh perut. Muntah atau
rangsangan viseral akibat aktivasi nervus vagus. Obstipasi karena penderita
takut untuk mengejan. Panas akibat infeksi akut jika timbul komplikasi. Gejala
lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, antara 37,5-38,5 C tetapi jika
suhu lebih tinggi, diduga sudah terjadi perforasi (Departemen Bedah UGM, 2010).
Pada
pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi di dapat penderita berjalan membungkuk
sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi perforasi, dan
penonjolan perut bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler abses (Departemen
Bedah UGM, 2010). Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit
kembung. Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit
tekanan, dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri.
Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah adalah sebagai berikut:
1)
Nyeri
tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan
bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
2)
Nyeri
lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness (nyeri lepas tekan)
adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba
dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan dalam di titik
Mc. Burney.
3)
Defence
muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietal.
4)
Rovsing
sign (+) adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila dilakukan
penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri
lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.
5)
Psoas
sign (+) terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan yang
terjadi pada apendiks.
6)
Obturator
sign (+) adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan
kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut
menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium (Departemen
Bedah UGM, 2010).
Pada
perkusi akan terdapat nyeri ketok pada auskultasi akan terdapat peristaltik
normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak membantu
dalam menegakkan diagnosis apendisitis, tetapi 15 kalau sudah terjadi
peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok
dubur (Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9-12.
Bermacam
sistem skor digunakan untuk meningkatkan akurasi diagnos klinis pada pasien
apendisitis. Skor Alvarado merupakan sistem skor yang paling dikenali namun hasilnya
masih terlalu bervariasi.
Tabel
III. Sistem Skor Untuk Diagnosis Apendisitis Akut Menggunakan
|
Uraian |
Skor |
|
Nyeri bermigrasi dari bagian tengah
perut ke kanan ilia fosa |
1 |
|
Anoreksia |
1 |
|
Mual atau muntah |
1 |
|
Nyeri pada bagian kanan ilia fosa |
2 |
|
Nyeri lepas tekan |
1 |
|
Peningkatan temperatur (≥ 37,5⁰C) |
1 |
|
Peningkatan bilangan leukosit ≥ 10 x
10⁰/L |
2 |
|
Neutrofilia ≥ 75% |
1 |
|
Total |
10 |
Interpretasi:
Skor 7-10 = apendisitis akut,
Skor 5-6 = curiga apendisitis akut,
Skor l-4 = bukan apendisitis akut.
Pembagian ini berdasarkan studi dari McKay (2007)
I.
Prognosis
Tingkat
kematian dari apendisitis yang kompleks adalah sangat rendah sekali. Bahkan,
tingkat kematian apendisitis perforasi dalam kebanyakan kelompok hanya 0,2%,
meskipun mendekati 15% pada awalnya. Morbiditas dan mortalitas apendisitis akut
masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan diagnosa dan
penanganan pembedahan. Pembedahan yang terlambat mungkin tetap berhubungan
dengan perforasi. Sebagian besar penderita dengan risiko apendisitis perforasi
mempunyai skor Alvarado yang tinggi (Nursidah, 2009).
Angka
kematian dipengaruhi oleh usia pasien, keadekuatan persiapan prabedah, serta
stadium penyakit pada waktu intervensi bedah. Apendisitis tak berkomplikasi
membawa mortalitas kurang dari 0,1%, gambaran yang mencerminkan perawatan
prabedah, bedah dan pascabedah yang tersedia saat ini. Angka kematian pada
apendisitis berkomplikasi telah berkurang dramatis menjadi 2 sampai 5 persen,
tetapi tetap tinggi dan tak dapat diterima (10-15%) pada anak kecil dan orang
tua. Pengurangan mortalitas lebih lanjut harus dicapai dengan intervensi bedah
lebih dini.
J.
Tatalaksana
Terapi
Terapi
apendisitis adalah apendektomi yaitu operasi bedah yang dilakukan untuk memindahkan
apendiks yang terinfeksi. Penatalaksanaan apendisitis meliputi tiga tahap:
1.
Persiapan
Sebelum Operasi
Setelah timbulnnya keluhan, dilakukan
observasi apendisitis dalam waktu 8 hingga 12 jam, apabila tanda dan gejala
apendisitis yang dialami masih belum jelas. Jika diagnosis masih belum pasti,
maka pasien harus diamati dan diperiksa abdomen serta pelvis pada interval
waktu tertentu karena tidak ada gunanya memperpanjang waktu observasi dan tidak
ada yang boleh diberikan lewat mulut. Jika diperkirakan ada perforasi atau
plebilitis maka diberikan antibiotik intravena. Demam tinggi, terutama yang
terjadi pada anak-anak, harus diturunkan terlebih dahulu sebelum anak tersebut
diberi anestesi. Selang nasogastrik dimasukkan jika abdomen kembung atau pasien
mengalami keracunan.
2.
Apendektomi
(Operasi Apendisitis)
Apendektomi merupakan satu-satunya
pengobatan apendisitis sederhana atau apendisitis perforasi yang disertai
peritonis kalau tersedia fasilitas serta personalitas yang adekuat. Kalau tidak
sebagai gantinya diberikan antibiotik intravena dosis tinggi. Abses pada
apendiks diobati dengan antibiotik intravena.
Apendektomi terbagi kepada dua tipe
yaitu:
1)
Apendektomi
terbuka (Open Appendectomy)
Satu sayatan akan dibuat (sekitar 5 cm)
di bagian bawah kanan perut, melewati kulit, dinding usus, dan peitonium.
Setelah ditemukan, apendiks dipisahkan dari organ-organ dengan hati-hati dan
dikeluarkan. Sayatan akan lebih besar, sebesar 7 sampai 8 cm jika usus buntu
telah mengalami perforasi.
2)
Apendektomi
Laparoskopi
Apendektomi laparoskopi telah menjadi
prosedur standar yang secara selektif digunakan untuk mengalihkan apendiks.
Rongga peritonium akan dipompa dengan gas karbon dioksida untuk
menggelembungkan dinding perut supaya kelihatan. Laparoskop dilewatkan melalui
sayatan kecil pada dinding perut anterolateral.
3.
Pasca
Operasi
Observasi tanda-tanda vital dilakukan
untuk mengetahui perdarahan di dalam abdomen, syok, hipertemia atau gangguan
pernafasan. Sekiranya setelah 12 jam tidak terjadi gangguan, maka pasien
dikatakan baik dan selama waktu itu, pasien dipuasakan. Selama 4 sampai dengan
5 jam, pasien diberikan minum mulai 15ml/jam, lalu baru dinaikkan menjadi
30ml/jam.
Apabila tidak terdapat komplikasi pada
apendisitis, maka pemberian diet harus segera disarankan untuk pasien setelah
operasi dan pasien dapat keluar dari rumah sakit setelah dietnya dapat
ditoleransi.
Menurut Baughman, et, al., (2000), Penatalaksanaan
yang dapat dilakukan pada penderita apendisitis meliputi penanggulangan
konservatif dan operatif.
A.
Penanggulangan
konservatif
Penanggulangan
konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke
pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk
mencegah infeksi. Pada penderita apendisitis perforasi, sebelum operasi
dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik
sistemik.
B.
Operatif
Bila diagnosa
sudah tepat dan jelas ditemukan apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah
operasi membuang appendiks. Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik
dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks dilakukan drainase.
K.
Obat-Obat
Apendisitis
Apendisitis yang
sering digunakan pada pasien yang menderita apendisitis adalah golongan
penisilin, sefalosporin, aminoglikosida dan metronidazol. Juga turut diberikan
obat antiemetik. Antibiotika adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi
dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman.
Klasifikasi
antibiotika antara lain:
1)
Penisilin
Penisilin bersifat bakterisid dan
bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel. Obat ini berdifusi dengan
baik di jaringan dan cairan tubuh, tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang
kecuali jika selaput otak mengalami infeksi. Obat ini disekresi ke urin dalam
kadar terapetik. Probenesid menghambat ekskresi penisilin dalam tubulus ginjal
sehingga kadar dalam darah lebih tinggi dan masa kerjanya lebih panjang.
2)
Sefalosporin
Sefalosporin termasuk antibiotik
betalaktam yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel mikroba.
Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif dan gram negatif tapi spektrum
antimikroba masing-masing derivat bervariasi. Farmakologi sefaloposrin mirip
dengan penisilin, ekskresi terutama melalui ginjal dan dapat dihambat oleh
probenesid.
Dari sifat farmakokinetik, sefalosporin
dibedakan menjadi dua golongan. Sefaleksin, sefradin, sefaklor dan sefadroksil
dapat diberikan per oral karena diabsorpsi melalui saluran cerna. Sefalosporin
lainnya hanya dapat diberikan parenteral. Sefalotin dan sefapirin umumnya
diberikan secara i.v karena menimbulkan iritasi pada pemberian i.m. Kebanyakan
sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh ke urin, kecuali sefoperazon yang
sebagian besar diekskresi melalui empedu. Oleh karena itu, dosisnya harus
disesuaikan pada pasien gangguan fungsi ginjal.
Generasi pertama bersifat sensitif
terhadap enzim β-laktamase, dan berspektrum sempit. Dalam hal ini, berspektrum
sempit adalah relatif karena sebenarnya aksinya atau spektrum sefalosporin
generasi pertama sama dengan penisilin spektrum luas. Contoh dari generasi
pertama adalah sefazolin dan sefaleksin. Generasi kedua mempunyai stabilitas
yang lebih baik, dan aktivitasnya terhadap bakteri gram bakteri negatif lebih
tinggi. Contoh dari generasi kedua adalah sefaklor, sefamandol dan sefoksitin.
Generasi ketiga mempuyai spektrum lebih luas dan lebih resisten terhadap enzim
β-laktamase. Contoh dari generasi ketiga adalah sefotaksim, seftazidim dan
seftriakson.
Generasi keempat mempunyai aktivitas
baik terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif, dan mempunyai
resistensi terhadap enzim β-laktamase yang lebih baik. Contoh dari generasi
keempat adalah sefepim dan sefpirom.
Reaksi alergi merupakan efek samping
yang paling sering terjadi. Reaksi anafilaksis dengan spasme bronkus dan
urtikaria dapat terjadi. Reaksi silang biasanya terjadi pada pasien dengan
alergi penisilin berat, sedangkan pada alergi penisilin yang ringan dan sedang,
kemungkinannya kecil. Sefalosporin merupakan zat yang nefrotoksik, walaupun
jauh kurang toksik dibandingkan dengan aminoglikosida dan polimiksin. Kombinasi
sefalosporin dengan aminoglikosida mempermudah terjadinya nefrotoksisitas.
3)
Aminoglikosida
Aminoglikosida bersifat bakterisidal dan
aktif terhadap bakteria gram positif dan gram negatif. Aminoglikosida tidak
diserap melalui saluran cerna, sehingga harus diberikan secara parenteral.
Ekskresi terutam melalui ginjal. Pada gangguan fungsi ginjal dapat terjadi
akumulasi. Sebagian besar efek samping tergantung dari besarnya dosis, oleh
karena itu dosis perlu diperhatikan dengan cermat dan pengobatan sebaiknya
jangan melebihi 7 hari.
Aminoglikosida dapat mengganggu
transmisi saraf dan pemberiannya harus dihindari dari pada miastenia gravis.
Dosis besar yang diberikan dapat menimbulkan sindrom miastenia, walaupun
sebelumnya tidak ada gangguan neurologis. Efek samping yang paling sering
adalah ototoksisitas, nefrotoksisitas yang biasanya terjadi pada orang tua atau
pasien gangguan fungsi ginjal.
4)
Metronidazol
Metronidazol merupakan antimikroba
dengan aktivitas yang sangat baik terhadap bakteri anaerob dengan protozoa.
Spektrum antiprotozoanya mencakup Trikomonas vaginalis, vaginosis bakterialis
(terutama Gardrenella vaginalis). Aktivitas antibakteri anaerobnya sangat
bermanfaat untuk sepsis pada kasus bedah. Antiemetik atau obat mual adalah obat
yang digunakan untuk mengatasi rasa mual dan muntah. Antiemetik secara khusus
digunakan untuk mengatasi mabuk perjalanan dan efek sampai dari analgesik
golongan opiat, anestesi umum, dan kemoterapi yang digunakan untuk melawan
kanker, juga untuk mengatasi vertigo (pusing) atau migren.
Tujuan keseluruhan dari terapi anti-emetik adalah untuk mencegah atau menghilangkan mual dan muntah, seharusnya tanpa menimbulkan efek samping. Terapi antiemetik untuk pasien dengan gangguan elektrolit akibat sekunder dari muntah, anoreksia berat, memburuknya status gizi atau kehilangan berat badan.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.
Usus buntu (Appendicitis) atau penyakit radang usus
buntu merupakan peradangan atau pembengkakaan yang terjadi pada usus buntu
menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna pada usus buntu
(appendiks) akibat adanya tekanan, akhirnya usus buntu mengalami kerusakan dan
terjadi pembusukan (gangren) karena sudah tak mendapatkan makanan lagi.
2.
Penyebab utama yang
paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyabab adalah faktor
penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau
pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu
diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari
oleh bakteri/kuman Escherichia Coli,
inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan
usus buntu.
3.
Secara klinis, apendicitis
ini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu Apendisitis akut dan Apendisitis
Kronis
4.
Epidemiologi apendisittis menunjukkan kebiasaan
makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan
apendisitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga
timbul sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora
pada kolon.
5.
Patologi
apendicitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan
dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir) sehingga
terjadi obstruksi yang menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke
sekum menjadi terhambat, sehingga mengakibatkan timbulnya edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal
yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.
6.
Risiko
terkena apendisitis juga dapat berubah dari waktu ke waktu tergantung pada usia
dan gaya hidup seseorang. Terdapat beberapa faktor risiko yang dilihat pada
pasien apendisitis secara umum yaitu Umur, Jenis kelamin, Diet, Genetika dan
Infeksi
7.
Keluhan
yang dapat dijumpai pada pasien apendisitis yaitu nyeri pada abdomen atau
bagian perut, Mual dan Muntah dan Demam.
5.
Diagnosis
apendisitis dapat dilakukan mendasari pada gambaran klinis dan temuan pada
hasil radiografis. Antara diagnosis yang sering dilakukan adalah Gejala/keluhan
Utama, Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan Laboratorium dan Gambaran Radiologi.
6.
Tingkat
kematian dari apendisitis yang kompleks adalah sangat rendah sekali. Bahkan,
tingkat kematian apendisitis perforasi dalam kebanyakan kelompok hanya 0,2%,
meskipun mendekati 15% pada awalnya.
7.
Terapi
apendisitis adalah apendektomi yaitu operasi bedah yang dilakukan untuk memindahkan
apendiks yang terinfeksi.
8.
Apendisitis
yang sering digunakan pada pasien yang menderita apendisitis adalah golongan
penisilin, sefalosporin, aminoglikosida dan metronidazol. Juga turut diberikan
obat antiemetik. Antibiotika adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi
dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman.
B.
Saran
1.
Hendaknya jangan memakan cabai dan jambu klutuk beserta
bijinya. Karena memakan cabai bersama bijinya atau
jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna dalam tinja dan
menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asing.
2. Begitu pula jangan membiarkan masalah buang air besar karena bilaterjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi) dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C dan Hackley, JiAnn C.
2000. Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku untuk Brunner dan Suddarth.
Jakarta: EGC.
Farmasiku, 2019. Penyakit Radang Usus Buntu. Diakses dalam http://ilmufarmasetika.blogspot.com/2013/05/makalah-tentang-penyakit-radang-usus.html
Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G. 2005. Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2, Alih Bahasa
Kuncara, H.Y, dkk. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M dan Ahern, Nancy R. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil Noc. Jakarta: EGC.
Comments
Post a Comment
Silahkan Beri Komentar Anda