PTK 2 : Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Melalui Layanan Bimbingan Konseling Dengan Cara Meningkatkan Kualitas Hubungan Guru Bimbingan Konseling Dengan Siswa
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Melalui Layanan Bimbingan Konseling
Dengan Cara Meningkatkan Kualitas Hubungan Guru
Bimbingan Konseling Dengan Siswa
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Konseling menjadi bagian integral dari pendidikan di sekolah sejak
diberlakukanya kurikulum 1975. Konseling memiliki sebutan yang beragam dan
terus berkembang dari waktu ke waktu. Beberapa istilah yang lazim digunakan
disekolah adalah GC (Guidance and Counseling), BP (Bimbingan dan Penyuluhan),
serta BK (Bimbingan dan Konseling).
Personil yang bertugas menangani juga mendapat sebutan yang berbeda –
beda seperti guru GC, guru BP, guru BK,
pembimbing dan konselor. Undang – undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 1 (ayat) 6, mengukuhkan sebutan konselor serta
menegaskan konselor sebagai pendidik.
Layanan dan bimbingan konseling di sekolah menengah pertama (SMP)
didasarkan atas PP No. 28 Tahun 1990, Bab X Pasal 25 ayat(1) yang menyatakan
bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya
menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Berdasar
pedoman bimbingan dan penyuluhan siswa di sekolah menengah pertama tahun
1995/1996, layanan bikbingan dan konseling bertujuan agar para siswa dapat
mewujudkan diri sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, pelajar
kreatif, dan pekerja produktif.
Berdasarkan hal tersebut diatas peranan bimbingan konseling kepada siswa
di sekolah sangat penting. Jika mencermati perkembangan dunia pendidikan yang
sangat pesat saat ini, dimana masing – masing sekolah berusaha untuk mampu
bersaing dalam meningkatkan kualitas pengajarannya terutama dalam kegiatan
belajar mengajar. Bimbingan dan konseling muncul sebagai solusi bagi sekolah
dalam membantu siswanya mencapai prestasi belajar yang optimal.
Dewasa ini para siswa dihadapkan kepada berbagai macam persoalan yang
timbul akibat dinamika masyarakat modern. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa
persoalan yang mereka hadapi berdampak terhadap prestasi belajar mereka di
sekolah. Misalnya permasalahan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual,
kondisi fisik dan kesehatan akan mengakibatkan siswa sulit menyesuaikan diri
dengan teman-temannya yang normal hal ini tentu berpengaruh terhadap proses
belajar mereka di kelas. Kesulitan – kesulitan yang mereka hadapi merupakan
bagian dari proses pembelajaran pribadi masing – masing dari mereka.
Menyingkapi permasalahan seperti diatas sekolah berkewajiban membantu siswa
untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi sehingga tujuan pembelajaran di
sekolah dapat tercapai
Ketidakmampuan siswa dalam menghadapi hambatan – hambatan yang
dialamainya akan mengakibatkan siswa menjadi pemalas, kegiatan – kegiatannya
tidak terarah dan sulit dikontrol, egonya tinggi, ingin berhasil tanpa jerih
payah yang seharusnya dilakukan, mudah frustasi dan mudah tersinggung, apabila
pada saat resesi ekonomi dunia seperti dunia sekarang ini dimana tantangan
selalu muncul. Salah satu penanggulanganya adalah perlunya kehadiran petugas
bimbingan dan penyuluhan disekolah adalah diutamakan dalam hubungannya dengan
proses belajarnya disekolah maupun dirumah.
Program bantuan yang dilaksanakan oleh petugas bimbingan dan penyuluhan
(BP) di sekolah, dalam menjalankan tugasnya, petugas bimbingan dan penyuluhan
harus dapat menjalin kerja sama yang baik dengan perangkat pendidikan yang lain
seperti : Kepala Sekolah, Guru, Petugas Tata Usaha, Penjaga Sekolah bahkan
masyarakat sekitarnya.
Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas maka penulis mengemukakan
sebuah judul penelitian yaitu tentang “Upaya
Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP XXX
Melalui Layanan Bimbingan Konseling Dengan Cara Meningkatkan Kualitas Hubungan
Guru Bimbingan Konseling Dengan Siswa Pada Tahun Pelajaran XXX”
B. Definisi Operasional Variabel
Dalam hal ini penulis membatasi pada judul tersebut diatas dengan
mengemukakan hal – hal sebagai berikut :
1.
Bimbingan (Guidance)
Pengertian
bimbingan disini adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu
atau sekumpulan individu – individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan
– kesulitan di dalam kehidupannya agar individu atau sekumpulan individu –
individu itu dapat mencapai kesejahteraan dalam hidupnya.
2.
Penyuluhan
Penyuluhan adalah suatu hubungan yang bersifat pribadi, yang dapat dilakukan dengan bertatap muka, dengan tujuan agar dapat mengambil keputusannya sendiri dalam menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapinaya.
Penyuluhan adalah suatu hubungan yang bersifat pribadi, yang dapat dilakukan dengan bertatap muka, dengan tujuan agar dapat mengambil keputusannya sendiri dalam menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapinaya.
3.
Pengertian Belajar
Belajar adalah
suatu proses perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan, perubahan tersebut
tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan
sementara seorang seperti kelelahan atau yang disebabkan oleh obat – obatan.
Perubahan kegiatan yang dimaksud adalah mencakup pengetahuan kecakapan dan
tingkah laku. Belajar adalah dengan kematangan.
4.
Aktivitas Belajar
Aktivitas
belajar dari activity (bahasa Inggris) yang berarti pelajaran atau kegiatan.
Aktifitas disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka
memperoleh pengetahuan dan pengalaman – pengalaman dalam proses belajar
disekolah.
Aktifitas belajar siswa meliputi :
Aktifitas belajar siswa meliputi :
a)
Peran serta siswa dalam kegiatan belajarnya di sekolah
tanpa menunggu perintah dari guru.
b)
Kesiapan siswa dalam kegiatan belajar mengajar tentang
keperluan – keperluan atau perlengkapan – perlengkapan yang dibutuhklan dalam
kegiatan belajar mengajar.
c)
Kemampuan Siswa
dalam merencanakan, melaksanakan strategi belajarnya bail di sekolah
maupun di rumah.
5.
Prestasi Belajar
Prestasi
belajar merupakan hasil yang dicapai dalam proses belajarnya sesuai dengan
aktifiatas dan kemampuan siswa. Pada umumnya prestasi belajar siswa itu
dinyatakan dalam bentuk nilai berskala. Siswa dapat dikatakan berprestasi
tinggi apabila hasil belajarnya adalah di atas nilai rata – rata kelas.
C. Batasan Masalah
Dalam penyelidikan ini penulis akan membatasi pada masalah :
1.
Kegiatan bimbingan dan penyuluhan dalam membantu
siswa yang lambat dalam belajar Matematika nya, pada siswa SMPN XXX
2.
Pelayanan bimbingan dan penyuluhan dalam meningkatkan
prestasi belajar Matematika.
D. Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini dapat penulis kemukakan hal – hal sebagai
berikut :
Apakah bimbingan dan penyuluhan di SMPN XXX
dapat membantu Individu yang lambat belajarnya untuk meningkatkan prestasi
belajar bidang studi Matematika pada siswa kelas XXX?
E. Tujuan Penelitian
Berdasar atas
perumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1.
Untuk memperoleh data tentang usaha yang telah
dilakukan oleh petugas bimbingan dan penyuluhan terhadap aktifitas siswa dalam
melakukan kegiatan belajarnya di sekolah
2.
Untuk mengetahui sampai sejauh mana petugas bimbingan
dan penyuluhan dalam mengarahkan para siswanya dalam kegiatan belajarnya secara
kontinyu.
F. Manfaat Penelitan
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat
berguna sebagai :
- Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru BP dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.
- Sumbangan pemikiran bagi guru BP dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa atas peran dan fungsi BP di sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Bimbingan
dan Penyuluhan (BP)
Pengertian bimbingan dan penyuluhan
berasal dari bahasa Inggris Guidance and Counseling. Mulai dikenal di
Amerika Serikat sekitar tahun 1908 dan dikenal di Indonesia pada sekitar tahun
1958. Dalam memberikan definisi tentang bimbingan dan penyuluhan banyak terjadi perbedaan – perbedaan di
kalangan ahli pendidikan. Perbedaan pendapat para ahli itu hanya perbedaan
dalam membrikan titik beratnya saja.
Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh P. Tirto Pramono M.Sc.Ed,
adalah sebagai berikut :
“”Bimbingan adalah bantuan peribadi kepada anak didik dimana ada
kesulitan masalah- masalah hidupnya. Bantuan itu baik diberikan kepada orang
dalam suatu kelompok, boleh juga anak itulah yang menjadi sasaran bukan
masalhnya. Maksud bimbingan dan penyuluhan
bukan memecahkan masalah untuk anak didik, melainkan sekedar membantu memecahkan
sendiri masalah- masalah itu
Disini dikemukakan bahwa bimbingan itu bukan hanya memecahkan masalah
yang dihadapi siswa baik perorangan maupun kelompok, tetapi bimbingan disini
juga membantu memberikan jalan bagisiswa dalam mengatasi masalah- masalah. Jadi
siswa yang mengalami masalah – masalahnya sendiri.
Dalam hal ini dapat penulis kemukakan bahwa bimbingan merupakan bagian
dari pada program pendidikan secara keseluruhan yang dilakukan oleh ahli
bersama stafnya dalam rangka memberikan pelayanan kepada individu, khusnya bagi
yang mengalami masalah agar dapat mengembangkan kemampuan, bakat dan potensi
yang terkandung pada diri individu, agar dapat mengambil keputusan sendiri
dalam mencapai cita –citanya. Dalam kata lain sebagai berikut :
1. Bimbingan
dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya bimbingan.
2. Bimbingan
diberikan baik kepada kelompok maupun individu dalam kelompoknya.
3. Pemberian
bantuan diutamakan bagi individu yang mangalami masalah.
4. Tujuan
bimbingan adalah untuk membantu dalam memecahkan masalah –masalah yang dihadapi
siswa.
5. Petugas
bimbingan tidak memaksakan kehendaknya kepada individu yang mengalami masalah.
6. Bimbingan
yang dilakukan adalah dengan sengaja dan disadari.
Pengertian Penyuluhan
Sebagaimana dikemukakan oleh Dra. Siti Rahayu Haditono mengemukakan
pendapatnya sebagai berikut :
“Penyuluhan adalah proses
menolong orang supaya dapat mengatasi persoalan – persoalanya dalam menambahkan
penyesuaian dirinya melalui wawancara atau interview serta sifat –sifat
hubungan yang lalu antara orang dengan orang, misalnya dengan membuat orang
yang ditolong tadi merasa bebas dan senang”
Berdasarkan definisi diatas dapat penulis uraikan sebagai berikut :
a) Konseling
merupakan usaha pemecahan masalah dalam arti sudah bermasalah atauakan kuatir
timbulnya suatu masalah pada diri seseorang.
b) Penyuluhan
adalah pemberian pertolongan kepada individu yang mengalami masalah.
c) Konseling
termasuk suatu kegiatan yang saling bertatap muka dilakukan dengan cara
wawancara atau dengan cara berdiskusi sendiri masalahnya
d) Pada
akhirnya individu yang ditolong akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Menurut Drs. Ketut Sukardi dalam bukunya yang berjudul :
Dasar – Dasar Bimbingan dan
Penyuluhan di Sekolah memberikan pengertian penyuluhan sebagai berikut :
“Hubungan timbal balik antar konselor dengan klien (konsele) dalam
memecahkan masalah – masalah tertentu dengan wawancara yang dilakukan secara
“face to face” atau cara yang sesuai dengan keadaan klien sehingga sanggup
mengungkapkan isi hatinya secara bebas yang bertujuan agar klien dapat mengenal
dirinya sendiri, mengetrapkan dirinya dalam proses penyesuaian dengan
lingkungan serta dapat berkembang dan
berperan yang lebih baik dan optimal dalam lingkungannya”
a) Petugas
penyuluhan yaitu seorang ahli dalam ilmu jiwa(psikologi) yang mengadakan hubungan
dengan disengaja dan direncanakan.
b) Penyuluhan
dan kepekaan dapat dengan segera mengetahui penyebab timbulnya ,masalah bagi
siswa.
c) Hubungan
antara individu dengan penyuluh terselenggara baik.
d) Hubungan
antara individu dapat menumbuhkan suatu perubahan sikap (kepribadian).
e) Jadi
yang dimaksud dengan mempengaruhi beberapa “face to face”, kepribadiannya yaitu
:
f) Mempengaruhi
dalam arti menunjang perkembangan kepribadian manusia menuju kearah kematangan.
g) Menghilangkan
beberapa gejala penyakit atau keteganggan jiwa.
Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan penyuluhan
adalah :
a) Bimbingan
diberikan kepada siswa yng merupakan bagian fungsi pendidikan. Dalam penyuluhan
dapat diberikan secara umum dan khusus artinya bantuan diberikan kepada kelompok
individu atau individu dari kelompok itu sendiri.
b) Kegiatan
bimbingan dan penyuluhan adalah disengaja, sadar, berencana dan kontinu.
c) Walaupun
pada prinsipnya perlakuan terhadap individu itu harus sama, namun dalam
bimbingan dan penyuluhan perlakuakuan itu dapat berbeda.
d) Dalam
memenuhi kebutuhan individu maupun sekolah, terorganisir dan luwes.
e) Pelayanan
bimbingan dan penyuluhan harus diarahkan kepada peningkatan perkembangan
individu yang bersangkutan, sehingga individu dapat memecahkan masalahnya.
B.
Jenis –
jenis bimbingan dan penyuluhan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Education
guidance :
Suatu bimbingan yang diberikan kepada individu agar dapat menentukan cara –cara belajar yang tepat, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
Suatu bimbingan yang diberikan kepada individu agar dapat menentukan cara –cara belajar yang tepat, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
2. Personal
social guidance
Diberikan kepada individu yang mengalami kesukaran – kesukaran pribadi, terutama dalam proses pematangan dirinya. Kesulitan – kesulitan yang dialami individu adalah berkaitan dengan penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya.
Diberikan kepada individu yang mengalami kesukaran – kesukaran pribadi, terutama dalam proses pematangan dirinya. Kesulitan – kesulitan yang dialami individu adalah berkaitan dengan penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya.
3. Vocalional
guidance
Bimbingan yang diberiakan kepada individu dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan disesuaikan dengan bakat minat dan ketrampilan sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaannya melalui :
Bimbingan yang diberiakan kepada individu dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan disesuaikan dengan bakat minat dan ketrampilan sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaannya melalui :
a) Vocational
informational pekerjaan hendaknya disesuaikan dengan minat, bakat dan
ketrampilanya.
b) Vocational
guidance , pemilihan pekerjaan hendaknya disesuaikan dengan minat, sifat dan
tuntutan individu.
c) Vocationaql
training, latihan yang diberiakan individu sesuai dengan pemilihannya.
d) Vocational
placement, memberikan latihan kepada individu dalam melakukan pekerjaanya.
e) Social
placement, latihan yang diberiakan dalam hubungannya dengan pekerjaannya agar
dapat menghargai pekerjaanya.
C.
Hubungan
Antara Guru Pembimbing dengan Siswa dalam Penyuluhan
Hubungan guru pembimbing dan siswa merupakan alat utama dalam
penyuluhan. Sehubungan dengan ini Shertezer dan Stone (1980:267) mengemukakan
bahwa :
“Most theories and approaches stress the
relationship between participants as the common ground for the helping process.
Although viewpoints differ in the amounts of emphasis and in how they treat
this topic, most agree that the relationship is a necessary condition for
bringing about change in the individual”
Dari pernyataan diatas mengisyaratkan bahwa apapun teori dan pendekatan
yang digunakan guru pembimbing dalam penyuluhan, peranan hubungan antara guru
pembimbing dengan siswa tetap merupakan hal terpenting dalam penyuluhan yang
akan membawa perubahan perilaku pada diri siswa.
Berikut ini dijelaskan kualitas hubungan antara guru pembimbing dengan
siswa dalam penyuluhan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Kualitas hubungan Guru Pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan
Kualitas hubungan Guru Pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan
Kualitas
hubungan guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan merujuk kepada kondisi
yang diperlukan untuk terjadinya perubahan perilaku pada diri siswa (Prayitno,
1980:76).
Kualitas
hubungan antara guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan tidak hanya
menentukan terjadinya perubahan perilaku yang efektif pada diri siswa, akan
tetapi juga menentukan apakah penyuluhan itu akan dilanjutkan atau tidak.
Brammer
(1979:36-42) menyimpulkan kondisi-kondisi(kualitas hubungan) yang mempengaruhi
keberhasilan konseling, yaitu : (1) pemahaman empati, (2) kehangatan dan
perhatian, (3) keterbukaan atau keaslian, (4) penghargaan yang positif, (5)
kekongkritan dan kekhususan.
2 Faktor – faktor
yang mempengaruhi kualitas hubungan Guru pembimbing dengan siswa dalam
penyuluhan
Terdapat
berbagai faktor yang turut mempengaruhi kualitas hubungan guru pembimbing
dengan siswa dalam penyuluhan yaitu: (1) kondisi – kondisi eksternal seperti
penataan fisik, proxemics dan privacy, (2) ciri-ciri khas siswa; dan (3)
sikap-sikap guru pembimbing seperti kepercayaan dan nilai-nilai.
Dari
ketiga faktor tersebut, guru pembimbing merupakan orang yang paling
bertanggungjawab atas kualitas hubungan itu . Shertzer dan Stone (1980:255)
mengemukakan bahwa guru pembimbing merupakan kunci untuk berinisiatif dan
mengembangkan kualitas hubungan (kondisi-kondisi yang kondusif) bagi
pertumbuhan siswa merupakan perpaduan dari ketrampilan guru pembimbing dalam
melakukan teknik-teknik penyuluhan dengan faktor-faktor pribadi pembimbing itu
sendiri.
D. Sifat – sifat Bimbingan dan Penyuluhan
1. Diagnostic,
dengan diagnostic akan dapat diketahui segala kelemahan dan kelebihan dari
individu yang meliputi :
a) Aspek
Intelektual, tentang aktifitas – aktifitas intelektualnya.
b) Aspek
diagnostic umum, kemungkinan – kemungkinan apa yang dihadapi beserta kelemahan
dan kekurangannya
c) Aspek
efektif, apa – apa saja yang menjadi sifat – sifat dasar khusus bagi siswa
d) Aspek
advice, untuk psiko – terapi yaitu apa yang harus diselesaikan dalam kasusnya.
2. Preventive,
yaitu merupakan tindakan pencegahan dalam menghindari individu dari masalah –
masalah yang dihadapi dari kekecewaaan atau kegagalan.
3. Perceveratif,
membantu siswa dalam melestarikan perkembangan siswa yang sedang berlangsung.
4. Korektif,
yaitu memberikan bantuan berupa usaha dalam mengatasi kelambatan siswa dalam
belajarnya agar tidak ketinggalan dengan teman lainya.
E.
Bentuk –
bentuk Bimbingan dan Penyuluhan
1. Secara
individu, bantuan yang diberiakan secara langsung (face to face) dalam kaitanya
dengan kesulitan – kesulitan yang dihadapi seperti konflik antara siswa dengan
lingkungan orang tua, lingkungan sekoloah, atau bakat dan minat, antara
perkembangan intelektual dengan emosi.
2. Secara
kelompok, bantuan yang diberiakan secara kelompok terutama diberiakan dalam
kaitanya dengan proses belajarnya di sekolah. Hal ini dilakukan apabila dalam
suatu kelompok kelas ini memerlukan penaganan secara klasikal dalam
meningkatkan prestasi belajarnya dapat memperoleh hasil belajar yang lebih
tinggi. Dalam hal ini penulis mengemukakan adanya pemberian bantuan secara
klasikal melalui pendekatan metode mengajar yang tepat bagi proses belajar
mengajar.
F.
Petugas
Bimbingan dan Penyuluhan
Kedudukan petugas bimbibgan dan penyuluhan dalam membantu kepala
sekolah beserta staf pengajar yang lain sebagai mana dikemukakan oleh Drs. Agus
Sujanto, sebagai berikut :
1. Kepala
sekolah, sebagai pemimpin sekolah yang bertanggung jawab atas baik buruknya
juga bertanggung jawab atas kesejahteraan warga sekolah tersebut. Kepala
sekolah dalam mengelola sekolah membutuhkan bantuan petugas – petugas sebagai
berikut :
2. Wali
kelas, berkewajiban mengadakan pembinaan terhadap kelas – kelas yang
dipimpinannya.
3. Para
guru, berkewajiban mengadakan pembinaan terhadap bidang studi yang dipegangnya.
4. BP3
(Badan Pembantu Penyelengaraan Pendidikan), yaitu lembaga social yang ikut
membantu kelancaran pemdidikan yang terdiri orang tua murid dan masyarakat
lainnya.
5. Para
pegawai dan penjaga sekolah sebagai pelaksana administrasi sekolah dan keamanan
sekolah.
6. Paedagog,
adalah para ahli pendidikan yang ada hubungannya dengan pendidikan.
7. Psikolog,
ahli dalam bidang kewajiban yang dapat memberikan bentuan terhadap masalah –
masalah yang ada hubungannya kewajiban.
8. Psikiater
adalah ahli dalam penyakit kejiwaan yang dapat memberikan bantuan terhadap
masalah – masalah yang ada hubungannya dengan kejiwaan
9. Dokter,
yang dapat memberikan bantuan penyembuhan terhadap penyakit fisik.
10. Sosial
wolker, adalah petugas yang dapat memberikan bantuan dalam melaksanakan
hubungan dengan penelitian.
11. Evaluator,
adalah ahli yang dapat memberikan bantuan terhadap masalah yang ada hubungannya
dengan penelitian.
12. Conselor,
adalah ahli yang mempunyai tugas khusus dalam penanganan bimbingan dan
penyuluhan. Conselor bertugas sebagai coordinator terhadap semua staf bimbingan
dan penyuluhan.
Tugas lain daripada petugas bimbingan dan penyuluhan yaitu bersama
kepala sekolah merencanankan program bimbingan yang efektif dalam suatu
sekolah. Conselor bersama kepala sekolah merencanakan bimbingan yang sistemtis
dan terpadu yaitu meliputi :
1. Program
pengembangan para guru
2. Program
konsultasi untuk orang tua dan guru
3. Program
konseling untuk murid
4. Program
penilaian hasil belajar
G.
Prosedur
Penyelesaian
Prosedur
penyelesaian dalam bimbingan dan penyuluhan
menggunakan teknik – teknik sebagai berikut :
1. Teknik
derektif
2. Teknikk
non derektif
Dalam teknik derektif, si terbimbing melaksanakan petunjuk – petunjuk
yang diputuskan oleh pembimbing. Dalam teknik non derektif, pembimbing hanya
merekfleksiakan saja, sehingga si terbimbing dapat mengambil keputusannya
sendiri.
Adapun teknik pendekatan yang
dipakai dalam prosedur penyelesaian adalah :
a) Pendekatan
individu.
Teknik pendekatan individu yaitu hubnungan pribadi antara si terbimbing dan pembimbing melauli wawancara nasehat atau konseling. Sebagaimana dikemukakan oleh I. Djumhur dan Drs. Moh. Surya, bahwa dalam pendekatan individu ada tiga teknik khusus dalam konseling yaitu :
Teknik pendekatan individu yaitu hubnungan pribadi antara si terbimbing dan pembimbing melauli wawancara nasehat atau konseling. Sebagaimana dikemukakan oleh I. Djumhur dan Drs. Moh. Surya, bahwa dalam pendekatan individu ada tiga teknik khusus dalam konseling yaitu :
1. Derektivee
conseling, yaitu konseling dimana yang paling berperan adalah konselor.
Konselor berusaha mengerahkan konseling sesuai dengan masalahnya.
2. Non
Derektive Conseling, teknik ini merupakan kebalikan dari teknik diatas, yaitu
semuanya berpusat pada konseling menampung pembicaraan konselor. Konseling
bebas berbicara sedang konselor menampung dan mengarahkan.
3. Collective
Conseling, yaitu campurnan dari teknik diatas.
Langkah – langkah yang ditempuh dalam konseling adalah sebagai berikut
:
1. Menentukan
masalah
2. Pengumpulan
Data
3. Analisa
Data
4. Hipotesis
atau menetapkan latar belakang masalah
5. Programa
atau menetapkan langkah
6. Terapi
yaitu pelaksanaan bantuan
7. Evaluasi
dan follow up yaitu melihat hasil yang ditempuh
b) Teknik
pendekatan kelompok
Pendekatan semacam ini dapat
dilakukan baik di kelas, disekolah, yaitu meliputi :
1. Pendekatan
kelompok
2. Sosiodrama
3. Penerangan
secara kelompok
4. Widya
Wisata
H.
Aktivitas
Belajar
Aktivitas berasal dari kata activity (bahasa Inggris) yang berarti
pelajaran atau kegiatan. Sebagai pendapat S. Tejo Wasito dan WJS.
Poerwadarminta yang artinya : aktifitas adalah pekerjaan kegiatan.
Dalam hal ini berarti siswa harus secara aktif dalam proses belajarnya
agar tercapai hasil belajar yang semaksimal mungkin. Belajar adalah suatu
aktifitas yang harus dikerjakan dengan sadar baik di luar sekolah maupun di
sekolah (didalam kelas).
Pengertian aktivitas belajar adalah meliputi :
a) Kegiatan
yang dilaksanakan siswa dalam belajarnya
b) Keaktifan
siswa dalam kegiatan belajar
c) Peran
serta siswa dalam ikut ambil bagian dalam belajarnya.
Oleh Karena itu perlu adanya pembinaan, pengarahan dan bimbingan
khususnya bagi guru bidang studi dalam menjalankan tanggung jawabnya
meningkatkan pelayananya dalam membimbing siswa, meliputi :
a) Jangan
menggangap bahwa kelompok siswa adalah kelompok yang utuh, siswa sendiri dari
berbagai kelompok dan individu yang mempunyai kepentingan sendiri – sendiri.
b) Hadapi
siswa itu sebagai individu yang khas, yang mempunyai persoalan cita – cita,
sifat dan latar belakang tersendiri.
c) Yang
mempengaruhi aktivitas belajar siswa selain guru di sekolah juga factor lain
seperti pengaruh keluarga dan masyarakat.
d) Harus
ada tekad yang kuat untuk benar –benar membina para siswanya.
Disamping itu guru harus dapat membangkitkan minat siswa terhadap
pelajarannya sehingga guru harus :
a) Guru
mempunyai semangat dan gairah yang maksimal terhadap bidang studinya.
b) Kemampuan
guru untuk memajukan siswanya.
c) Guru
hendaknya tanggap ing sasmita
d) Guru
harus berpenampilan menarik, menyenangkan dan harmonis
e) Guru
harus mampu memberikan dorongan terhadap siswanya.
Dalam hubungannya dengan aktivitas belajar yang tinggi akan merubah
siswa dalam proses belajar mengajar dari pasif menjadi aktif, sebagaimana
dikemukakan oleh MC. Kenchi tentang proses belajar mengajar variasi cara
belajarsiswa aktif (CBSA) sebagai berikut :
a) Partisipasi
siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar mengajar.
b) Tekanan
pada aspek afektif dalam pelajaran
c) Partisipasi
siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terutama berbentuk interaksi
siswa.
d) Penerimaan
(acceptance) pengajar terhadap perbuatan dan kontribusi siswa yang kurang
relevan atau balikan sama sekali rendah.
e) Kehensipan
siswa kelas sebagai kelompok
f) Kebebasan
atauy kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan penting
dalam kehidupan sekolah.
g) Jumlah
waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik yang
tidak mampu, baik yang tidak mampu yang berhubungan dengan pelajaran.
Berdasarkan pandangan diatas, bahw agar terjadi proses belajar mengajar
variasi CBSA secara optimal, guru harus memiliki kompetensi agar dalam proses
belajar mengajar diperoleh kemanusiaan antara metode yang dipilih dengan :
a) Materi
yang disampaikan
b) Karakteristik
masing – masing siswa
c) Fasilitas
yang tersedia
d) Tujuan
yang ingin dicapai
e) Situasi
dan kondisi lingkungan
I.
Prestasi
Belajar
Pengertian prestasi belajar menurut WJS. Poerwadarminto menjelaskan
bahwa prestasi belajar adalah “Hasil yang dicapai atau dilakukan………”
Sedangkan menurut Sumartono prestasi belajar adalah “sesuatu nilai yang
menunjukan hasil yang tinggi dalam belajar yang ingin dicapai menurut kemampuan
anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu…………..”
Berdasarkan pendapat diatas berarti hasil belajar seseorang tidak tergantung
situasi yang mempengaruhi baik yang bersumber pada anak maupun dari
lingkungannya. Disekolah prestasi belajar tersebut ditujukan dalam buku raport
prestasi belajar merupakan kecakapan nyata yang berarti hasil yang ingin
dicapai oleh seorang siswa pada suatu periode tertentu. Menurut Hamalik bahwa :
“Belajar adalah susatu bentuk
pertumbuhan atas perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara –
cara bertingkah laku yang baru berangkat pengalaman dan latihan”
Perubahan baru yang baru penulis kemukakan sebagai hal – hal yang belum
diketahui sebelumnya, timbul pengertian – pengertian baru, perubahan sikap,
kebiasaan, ketrampilan, perubahan sifat social, emosional, pertumbuhan
jasmaniah serta rohaniah.
Perubahan belajar merupakan hal yang komplek sebab merupakan suatu
proses yang dipengaruhi oleh factor intern maupun ekstern siswa itu sendiri.
J.
Usaha –
usaha Bimbingan dan Penyuluhan dalam Menunjang Prestasi Belajar Siswa Demi
Tercapainya Prestasi Belajar di Sekolah
Pelayanan yang diberikan oleh sekolah, khususnya oleh petugas bimbingan
dan penyuluhan dalam meningkatkan prestasi belajar semaksimal mungkin di
antaranya :
a) Membantu
individu yang bermasalah baik secara individu maupun kelompok.
b) Menunjukan
kepada individu tentang cara – cara belajar yang baik.
c) Mengenal
sifat – sifat dan ciri – ciri dari masalah yang dihadapi individu
d) Penggunaan
pengalaman – pengalaman masa lampau terhadap tugas, diferensiasi dan integrasi.
e) Berusaha
menciptakan situasi baru sesuai dengan pengalamannya
f) Berusaha
mengurangi dan memberikan kesalahan – kesalahan
Disamping itu agar dalam belajarnya memiliki pedoman dan belajar secara
efektif dan efesien, perlu adanya prinsip – prinsip belajar sebagai berikut :
a) Belajar
adalah suatu proses aktif yang dipengaruhi oleh kondisi dinamis lingkungannya.
b) Tujuan
yang ingin dicapai sudah jelas
c) Dalam
belajar perlu adanya pedoman belajar, baik dari pembimbing maupun dari buku –
buku.
d) Dalam
belajar perlu adanya latihan – latihan
e) Belajar
perlu adanya pedoman belajar, baik dari pembimbing maupun buku –buku.
f) Dalam
belajar dibutuhkan pula komprehensif.
g) Belajar
adalah kemamauan siswa dalam mentransfer pengalaman yang diperolehnya.
Berdasarkan prinsip – prinsip belajar diatas diharapkan agar siswa akan
memperoleh prestasi belajar yang maksimal, Drs. Soemartono mengemukakan bahwa :
a) Membangkitkan
motivasi dan gairah dalam kegiatan belajar siswa.
b) Petugas
bimbingan dan penyuluhan melaksanakan
koordinasi dengan guru bidang studi, khususnya bidang studi Matematika untuk
mencari jalan keluar. Memberikan petunjuk – petunjuk tentang cara belajar yang
baik atau yang tepat
c) Mewmberikan
wawasan kepada siswa tentang masa depannya.
d) Mengusahakan
agar siswa dapat memahami keadaan lingkungan keluarga, masyarakat maupun
sekolah
J.
Latar
Belakang Keluarga (Orang Tua)
Prestasi belajar siswa dapat pula dipengaruhi oleh latar belakang
keluarga, terutama perlakuan orang tua terhadap siswa dalam lingkungan
keluarganya. Aktifitas serta prestasi belajar yang dicapai terutama tergantung
pada perlakuan orang tua di masa kecil (anak - anak) yang dapat menggangu
perkembangannya di kala itu. Perlunya orang tua terhadap anak anak akan
mempengaruhi jiwa anak samapai pada masa perkembangnya lebih lanjut. Perlakuaan
orang tua terhadap siswa di waktu kecil dapat juga mempengaruhi perkembangan
inteltualnya serta perasaan rendah diri dalam lingkungan belajarnya. Yang lebih
penting lagi ialah perlakuan orang tua sangat berpengaruh terhadap masa depan
siswa.
Dalam menyesuaikan dengan lingkungannya, terutama lengkungan belajarnya
disekolah siswa tidak dapat secara otomatis mengikuti dan menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
belajarnya, perlu mendapatkan bimbingan dan pembinann dari petugas bimbingan
dan penyuluhan di sekolah. Bagi petugas
bimbingan dan penyuluhan sendiri dalam
mengidentifasi latar belakang siswa dengan bantuan data dokumentasi identitas
siswa di sekolah, disamping dari hasil interview dan observasi.
K.
Belajar
Pengertian belajar menurut beberapa ahli adalah :
Menurut WJS. Poerdarminto dalam kamus Bahasa Indonesia mengatakan
belajar adalah “Berusaha atau berlatih dan sebagainya supaya mendapatkan
sesuatu kepandaian” Sedangakan menurut Sumarsono prestasi belajar adalah “Suatu
nilai yang menunjukkan hasil yang tertinggi dalam belajar yang ingin dicapai
menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu……………….”
Sedangkan menurut W. Setrn, bahwa
belajar mengandung tiga hal :
1. Bahwa
belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral,change maupun potensial)
2. Bahwa
belajar untuk mendapatkan perubahan dan pada pokoknya adalah didapatkannya
kecakapan baru.
3. Bahwa
perubahan itu terjadi karena usaha
Diantara beberapa jenis belajar, salah satu diantaranya ialah belajar
bersikap. Sebagai dikemukakan oleh I.L Pasaribu dan Drs. Simanjuntak, SH.,
bahwa :
“Belajar sikap ini dapat terjadi
dengan berbagai cara mengetahui sesuatu dan merealisasikan sikap. Belajar siakp
termasuk belajar norma dengan cara identifikasi, interaksi kelompok, alat
komunikasi conditioning. Sikap merupakan dinamika untuk berbuat”
L.
Faktor
–Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Setiap perbuatan atau kegiatanbelajar tentu ada factor – factor yang
mempengaruhinya, baik yang bersifat mendorong maupun sebaliknya yaitu
menghambat secara singkat faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
itu dapat dibedakan antara faktor intern dan faktor ekstern.
1. Faktor
Intern adalah kempuan anak itu sendiri yang dibawa sejak lahir, pada dasarnya
anak sudah dibekalai dengan bermacam – macam kemampuan atau bakat potensi
antara yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Kemampuan yang bersifat bawaan
ini tidak dapat diubah tetapi hanya dapat dipengaruhi atau dikembangkan menurut
batas – batas yang telah dimilikinya. Dalam hubungan faktor intern yang sangat
dilakukan oleh pendidikan adalah mengembangkan potensi atau bakat yang
dimilikinya dengan jalan memberikan situasi atau rangsangan yang cocok atau
tepat yaitu dengan jalan bagi anak yang berbakat dalam bidang studi Matematika
diberikan bimbingan yang baik secara rutin sehingga pada akhirnya benar – baner
menjadi seseorang ahli dalam bidang Matematika. Jadi pada dasarnya pendidikan
merupakan proses tujuan melanjutkan potensi – potensi yang telah dimiliki anak
sejak lahir.
2. Faktor
Ekstern adalah segala pengaruh dari luar anak baik berasal dari pendidikan
maupun hasil pergaulan. Pengaruh dari luar ini dapat pula sesama manusia, dapat
pula berupa lingkungan fisik atau benda mati. Usaha pendidikan disini adalah
menetapkan atau mencegah hal – hal atau situasi yang akan menghambat. Adapun
faktor ekstern antara lain :
a) Fasilitas
dan alat- alat pelajaran
b) Situasi
proses belajar mengajar
c) Orang
tua, situasi lingkungan masyarakat dan situasi lingkungan sekolah
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Di dalam penelitian berhasil tidaknya suatu kegiatan yang dilaksanakan
banyak ditentukan oleh tepatnya metode yang digunakan. Dengan demikian metode
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menentukan kualitas hasil yang
telah dilakukan . Oleh karena itu perlu terlebih dahulu ditentukan metode yang
tepat bagi permasalahan yang akan diteliti dan ketetapan dalam memilih inilah
yang akan mengarahkan kepada tujuan penelitian.
Dalam hal ini metode mempunyai pengertian sebagai alat penyelidikan,
hal ini juga sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh WJS. Poerdarminto, bahwa :
“Metode adalah cara yang teratur dan terpilih yang paling baik untuk mencapai
suatu maksud dalam ilmu pengetahuan dalam pendidikan……”Sedangkan menurut
Sutrisno Hadi adalah :”Metode adalah suatu usaha untuk menentukan,
mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha dimana dilakukan
dengan menggunakan metode – metode ilmiah….”
Istilah metode berasal dari kata “Metode” dan “Logos”. Metode artinya
suatu cara untuk mencapai tujuan, sedangkan Logos artinya ilmu, maka metodologi
berarti ilmu tentang cara untuk mencapai kebenaran sesuatu secara ilmiah.
Dengan melihat uraian diatas maka jelaslah bahwa metode pada hakekatnya
membawa cara –cara yang dapat digunakan dalam suatu penyelidikan guna mendapat
data- data yang objektif akhirnya diperoleh suatu hasil yang dapat
dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah. Dalam bab ini akan dibahas
suatu persatu tentang :
- Metode Penemuan Objek Populasi dan Sampel
- Metode Pengumpulan Data
- Metode Analisa Data
Dari sekian
pokok bahasan ini, akan penulis kemukakan satu persatu, sebagai berikut :
A.
Metode
Penentuan Objek
Metode penentuan objek tentu ada cara yang digunakan untuk memilih, dijadikan
dan menentukan hal – hal yang penulis anggap dapat dijadikan sumber data sesuai
dengan kebutuhan yang tertera dalam pelaksanaan diatas sehingga dapat memenuhi
data –data yang diperlukan secara tepat.
Pada setiap penelitian tentu ada objek yang diteliti, yang dimaksud
objek penelitian adalah segala sesuatu yang dikenal atau menjadi sasaran
penelitian dengan adanya perumusan, pembatasan serta penentuan objek,
penelitian ini akan dimanfaatkan serta terhindar kemungkinan menjadi kekaburan
yang sekaligus akan memudahkan penyelenggaraan
Dalam menentukan objek penelitian, penulis tidak menggunakan sistem
randomisasi tetapi berdasarkan populasi siswa yang mengalami kelambatan dalam
bidang studi Matematika yaitu sejumlah 5 (lima) orang mereka itu adalah :
1. HERI
2. UDIK
3. ROFI
4. TRI
5. MUKLISON
Alasan penulis
mengadakan analisa data terdapat keseluruhan populasi sekolah SMPN XXX tersebut
diatas, mengingat bahwa kemampuan belajar Matematika yang mereka capai belum
pada taraf yang dikategorikan kriteria sedang.
Populasi dan Sampel
Sebagai populasi penelitian ini adalah siswa SMPN XXX sedangkan
sampelnya dalah siswa SMPN XXX tahun ajaran 200X Sedangkan jumlah kelas X pada
SMPN XXX ada 9(sembilan) kelas.
Sampel dari populasi kelas X seluruhnya dengan menggunakan random dan cara
ordinal sebanyak satu kelas. Dari jumlah kelas atau sembilan kelas setelah
dirandom terdapat satu kelas dengan jumlah 49 siswa, sekaligus sebagai sampel.
Sutrisno Hadi menjelaskan cara ordinal adalah :
“Cara yang diselenggarakan dengan
menyusun subjek dalam suatu daftar dan mengambil mereka – mereka yang akan
ditugaskan di dalam sampel di atas kebawah misalnya mengambil mereka – mereka
yang bernomor kelipatan angka lima dan yang bernomor ganjil atau genap”
Menurut Dra.Ny. Suharsini Arikonto bahwa : “sampel adalah sebagai dari
wakil populasi yang diteliti jika kita akan hanya meneliti sebagian dari
populasi maka metode tersebut metode sampel”
B.
Metode
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara untuk mendapatkan data dari
proyek yang diteliti. Ada beberapa cara dalam pengumpulan data, namun tidak
setiap cara yang ada selalu cocok untuk memperoleh data yang diperlukan. Hal
ini disebabkan tiap metode mempunyai kegunaan sendiri – sendiri. Agar dalam
pelaksanaan penelitian, pengumpulan data ini bisa efisien maka penulis perlu
menggunakan metode – metode yang tepat dan bersifat ilmiah.
Adapun metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai
berikut :
a) Metode
Observasi (Pengamatan)
Penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap
objek, baik secara langsung maupun tidak langsung, menggunakan teknik yang
disebut dengan “pengamatan atau observasi”. Teknik ini banyak digunakan, baik
dalam penelitian dapat diamati dari dekat untuk melaksanakan pengamatan ada 3
cara antara lain :
1. Pengamatan
langsung (direct observation) yakni :
pengamatan yang dilakukan tanpa perantara atau secara langsung terhadap objek
yang diteliti seperti mengadakan pengamatan langsung terhadap proses belajar
mengajar di kelas.
2. Pengamatan
tak langsung (direct observation)
yaitu : Pengamatan yang dilakukan terhadap suatu objek melalui perantara suatu
alat, cara, baik dilaksanakan dalam situasi sebenarnya maupun bantuan. Contoh
mengadakan pengamatan terhadap pengaruh hukuman terhadap suasana kejiwaan, atau
mengadakan pengamatan melalui alat yang disengaja untuk keperluan tersebut.
3. Partisipasi
yaitu : Pengamatan yang dilaksanakan dengan cara ikut ambil bagian atau
melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti. Cara ini biasanya banyak
digunakan terutama dalam penelitian psikologi, sosiologi maupun antropologi,
namun demikian dalam lapangan pendidikan pun banyak pula yang digunakan teknik
ini, seperti mengadakanpengamatan terhadap mekanisme proses hubungan siswa
antara guru, kepala sekolah, dilakukan dengan cara ikut ambil bagian sebagian
guru dan mangamati setiap gejala yang menjasi objek penelitian.
Cara
mengadakan pengamatan sebagaimana diuraikan di atas dapat juga dilaksanakan
dengan menggabungkan dua atau tiaga cara sekaligus dalam suatu kegiatan penelitian,
mengambil pertimbangan bahwa suatu cara dianggap kurang memadai. Dari
penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi
bukanlah sekedar mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga
mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penelitian ke dalam suatu skala
bertingkat.
Misalnya :
Kita memperhatikan reaksi siswa dalam menerima pelajaran Matematika, bukan
hanya mencatat reaksinya itu bagaimana, dan berapa kali ia masuk, tetapi juga
menilai reaksi tersebut sangat kurang atau tidak sesuai dengan yang kita
kehendaki.
b) Metode
Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang berisikan daftar isian
yang harus diisi atau dijawab oleh sejumlah subjek, dari angket tersebut dapat
diambil kesimpulan – kesimpulan tentang subjek yang diselidiki. Sedangkan jenis
pertanyaan ada yang tertutup ada pula yang terbuka. Jenis pertanyaan dikatakan
tertutup apabila penjawab yang telah tersedia dalam angket.
Sebagaimana dikemukakan oelh Drs. Bimo Walgito tentang angket yaitu sebagai
berikut :
“Jenis pertanyan tertutup adalah
pertanyaan – pertanyaan yang terbentuk, dimana orang yang menjadi questiore
tinggal milih jawaban yang telah disediakan dalam questionaire”
Dalam hal ini penulis laksanakan agar dapat mendeteksi sejauh mana
tanggapan dan fungsi bimbingan dan penyuluhan terhadap prestasi belajarnya.
Sebab ternyata walaupun program bimbingan dan penyuluhan sudah dilaksanakan di
SMPN XXX masih ada siswa yang enggan datang mengemukakan masalahnya atau
kesulitannya yang dihadapi terhadap guru wali wali kelas bahkan terhadap tugas
bimbingan dan penyuluhan sendiri. Untuk itu maka penulis memendang perlu untuk
mendapatkan informasi dari siswa melalui angket.
c) Metode
Dokumentasi
Metode ini sering disebut metode historis, sebagai landasan penulisan
kutipan dari pendapat Dr. Winarno Surahmad, M. Sc., sebagai berikut :
“Metode dapat disebut historis
atau dokumentasi, bila penyelidikan ditujukan pada penguraian dan penjelasan
apa yang telah lalu melalui sumber – sumber dokumen. Hanya ada metode historis
berusahan mencari penjelasan suatu budaya masa lau, metode dokumentasi mungkin
dalam penyelidikan mengenai masa sekarang……”
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, disini mengandung arti sebagai
bukti tertulis maupun tidak tertulis yang berhubungan dengan data yang tidak
berubah kebenarannya dan dapt dilihat serta diperiksa dikemudian hari. Adapun
yang penulis maksudkan disini adalah suatu cara untuk mengumpulkan data
berdasarkan data dokumentasi yang berbentuk tulisan dalam fungsi bimbingan dan
penyuluhan dalam menunjang prestasi belajar Matematika siswa SMPN XXX.
C.
Metode
Analisa Data
Pengelolaan data didalam suatu penelitian merupakan langkah yang
menentukan untuk mendapatkan hasil –hasil penelitian yang diharapkan
sebagaimana telah dikemukakan bahwa dalam penelitian ada bermacam – macam
metode pengelolaan data tersebut tergantung pada tujuan penelitian dan bentuk
dari penelitian yang bersangkutan. Sehubungan dengan penggunaan metode
pengelolaan kebenarannya.
Analisa data merupakan langkah lanjut dari pengumpulan data yakni cara
–cara yang diperoleh dan diperdengarkan dalam mengelola dan menganalisa data
hasil penelitian. Bila hal ini dilakukan atau cara menganalisa tidak ada
artinya.
Sebelum data tersebut ini dianalisa terlebih dahulu penulis kemukakan
klasifikasi data sebagai berikut :
1. Klasifikasi
Data
Metode yang
penulis kemukakan dalam penelitian ini metode deskriptif. Prof. Winarno
Surahmad, M.Sc, mengemukakan ciri metode deskriptif adalah sebagai berikut :
a) Memusatkan
diri pada pemecahan masalah –masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah
– masalah yang aktual.
b) Data
yang dikumpulkan mula –mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa.
Klasifikasi data yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
a) Pengaruh
bimbingan dan penyuluhan dalam peningkatan aktifitas belajar siswa
2. Analisa
dan interprestasi Hipotesa
Dikemukakan oleh Prof. Dr. Winarno Surahmad, M.Sc.Ed., bahawa dalam
menguji kedudukan sebuah hipotesa diperlukan data dengan sifat tertentu,
seperti :
a) Data
menunjukkan perhubungan variabel bebas dengan variabel bertingkat
b) Data
yang menunjukkan tidak adanya sebab – sebab lain selain pengaruh variabel
terhadap variasi terikat
c) Data
yang menunjukkan timbulnya variasi terikat sebagai akibat adanya variasi bebas
Dalam pengelolaan data ini penulis kemukakan dengan menggunakan table
presentasi (Presentasi Tabel). Untuk memperoleh presentasi dari suatu nilai,
dapat dicari dengan rumus :
% = (f / N) * 100
Dimana : f = jumlah responden dengan nilai tertentu
N = jumlah selaku responden
Bentuk –
bentuk table presentasi adalah :
1. Tabel
random, yakni table yang memungkinkan memuat responden yang banyak dari anggota
sample atau table yang mempunyai sel banyak untuk kasus tunggal.
2. Tabel
bervariasi, yakni table yang dibuat untuk membandingkan dan variabel dari dua
sampel, atau meringkas atau menggambarkan antara dua variabel.
3. Tabel
multivariasi, yakni table yang dibuat untuk menggambarkan atau meringkas
hubungan antara beberpa variabel.
Comments
Post a Comment
Silahkan Beri Komentar Anda