PTK 2

on Jumat, 05 Oktober 2012
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Melalui Layanan Bimbingan Konseling 
Dengan Cara Meningkatkan Kualitas Hubungan Guru 
Bimbingan Konseling Dengan Siswa


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Konseling menjadi bagian integral dari pendidikan di sekolah sejak diberlakukanya kurikulum 1975. Konseling memiliki sebutan yang beragam dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Beberapa istilah yang lazim digunakan disekolah adalah GC (Guidance and Counseling), BP (Bimbingan dan Penyuluhan), serta BK (Bimbingan dan Konseling).  Personil yang bertugas menangani juga mendapat sebutan yang berbeda – beda seperti  guru GC, guru BP, guru BK, pembimbing dan konselor. Undang – undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 (ayat) 6, mengukuhkan sebutan konselor serta menegaskan konselor sebagai pendidik.
Layanan dan bimbingan konseling di sekolah menengah pertama (SMP) didasarkan atas PP No. 28 Tahun 1990, Bab X Pasal 25 ayat(1) yang menyatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Berdasar pedoman bimbingan dan penyuluhan siswa di sekolah menengah pertama tahun 1995/1996, layanan bikbingan dan konseling bertujuan agar para siswa dapat mewujudkan diri sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, pelajar kreatif, dan pekerja produktif.
Berdasarkan hal tersebut diatas peranan bimbingan konseling kepada siswa di sekolah sangat penting. Jika mencermati perkembangan dunia pendidikan yang sangat pesat saat ini, dimana masing – masing sekolah berusaha untuk mampu bersaing dalam meningkatkan kualitas pengajarannya terutama dalam kegiatan belajar mengajar. Bimbingan dan konseling muncul sebagai solusi bagi sekolah dalam membantu siswanya mencapai prestasi belajar yang optimal.
Dewasa ini para siswa dihadapkan kepada berbagai macam persoalan yang timbul akibat dinamika masyarakat modern. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa persoalan yang mereka hadapi berdampak terhadap prestasi belajar mereka di sekolah. Misalnya permasalahan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual, kondisi fisik dan kesehatan akan mengakibatkan siswa sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang normal hal ini tentu berpengaruh terhadap proses belajar mereka di kelas. Kesulitan – kesulitan yang mereka hadapi merupakan bagian dari proses pembelajaran pribadi masing – masing dari mereka. Menyingkapi permasalahan seperti diatas sekolah berkewajiban membantu siswa untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi sehingga tujuan pembelajaran di sekolah dapat tercapai
Ketidakmampuan siswa dalam menghadapi hambatan – hambatan yang dialamainya akan mengakibatkan siswa menjadi pemalas, kegiatan – kegiatannya tidak terarah dan sulit dikontrol, egonya tinggi, ingin berhasil tanpa jerih payah yang seharusnya dilakukan, mudah frustasi dan mudah tersinggung, apabila pada saat resesi ekonomi dunia seperti dunia sekarang ini dimana tantangan selalu muncul. Salah satu penanggulanganya adalah perlunya kehadiran petugas bimbingan dan penyuluhan disekolah adalah diutamakan dalam hubungannya dengan proses belajarnya disekolah maupun dirumah.
Program bantuan yang dilaksanakan oleh petugas bimbingan dan penyuluhan (BP) di sekolah, dalam menjalankan tugasnya, petugas bimbingan dan penyuluhan harus dapat menjalin kerja sama yang baik dengan perangkat pendidikan yang lain seperti : Kepala Sekolah, Guru, Petugas Tata Usaha, Penjaga Sekolah bahkan masyarakat sekitarnya.
Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas maka penulis mengemukakan sebuah judul penelitian yaitu tentang “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP XXX Melalui Layanan Bimbingan Konseling Dengan Cara Meningkatkan Kualitas Hubungan Guru Bimbingan Konseling Dengan Siswa Pada Tahun Pelajaran XXX

B.     Definisi Operasional Variabel
Dalam hal ini penulis membatasi pada judul tersebut diatas dengan mengemukakan hal – hal sebagai berikut :
1.      Bimbingan (Guidance)
Pengertian bimbingan disini adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu – individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan – kesulitan di dalam kehidupannya agar individu atau sekumpulan individu – individu itu dapat mencapai kesejahteraan dalam hidupnya.
2.      Penyuluhan
Penyuluhan adalah suatu hubungan yang bersifat pribadi, yang dapat dilakukan dengan bertatap muka, dengan tujuan agar dapat mengambil keputusannya sendiri dalam menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapinaya.
3.      Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan, perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seorang seperti kelelahan atau yang disebabkan oleh obat – obatan. Perubahan kegiatan yang dimaksud adalah mencakup pengetahuan kecakapan dan tingkah laku. Belajar adalah dengan kematangan.
4.      Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar dari activity (bahasa Inggris) yang berarti pelajaran atau kegiatan. Aktifitas disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka memperoleh pengetahuan dan pengalaman – pengalaman dalam proses belajar disekolah.
Aktifitas belajar siswa meliputi :
a)      Peran serta siswa dalam kegiatan belajarnya di sekolah tanpa menunggu perintah dari guru.
b)      Kesiapan siswa dalam kegiatan belajar mengajar tentang keperluan – keperluan atau perlengkapan – perlengkapan yang dibutuhklan dalam kegiatan belajar mengajar.
c)      Kemampuan Siswa  dalam merencanakan, melaksanakan strategi belajarnya bail di sekolah maupun di rumah.

5.      Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai dalam proses belajarnya sesuai dengan aktifiatas dan kemampuan siswa. Pada umumnya prestasi belajar siswa itu dinyatakan dalam bentuk nilai berskala. Siswa dapat dikatakan berprestasi tinggi apabila hasil belajarnya adalah di atas nilai rata – rata kelas.


C.    Batasan Masalah
Dalam penyelidikan ini penulis akan membatasi pada masalah :
1.      Kegiatan bimbingan dan penyuluhan dalam membantu siswa yang lambat dalam belajar Matematika nya, pada siswa SMPN XXX
2.      Pelayanan bimbingan dan penyuluhan dalam meningkatkan prestasi belajar Matematika.

D.    Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini dapat penulis kemukakan hal – hal sebagai berikut :
Apakah bimbingan dan penyuluhan di SMPN XXX dapat membantu Individu yang lambat belajarnya untuk meningkatkan prestasi belajar bidang studi Matematika pada siswa kelas XXX?

E.     Tujuan Penelitian
Berdasar atas perumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk memperoleh data tentang usaha yang telah dilakukan oleh petugas bimbingan dan penyuluhan terhadap aktifitas siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya di sekolah
2.      Untuk mengetahui sampai sejauh mana petugas bimbingan dan penyuluhan dalam mengarahkan para siswanya dalam kegiatan belajarnya secara kontinyu.

F.   Manfaat Penelitan
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai :
  1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru BP dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.
  2. Sumbangan pemikiran bagi guru BP dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa atas peran dan fungsi BP di sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Bimbingan dan Penyuluhan (BP)
Pengertian bimbingan dan penyuluhan  berasal dari bahasa Inggris Guidance and Counseling. Mulai dikenal di Amerika Serikat sekitar tahun 1908 dan dikenal di Indonesia pada sekitar tahun 1958. Dalam memberikan definisi tentang bimbingan dan penyuluhan  banyak terjadi perbedaan – perbedaan di kalangan ahli pendidikan. Perbedaan pendapat para ahli itu hanya perbedaan dalam membrikan titik beratnya saja.
Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh P. Tirto Pramono M.Sc.Ed, adalah sebagai berikut :
“”Bimbingan adalah bantuan peribadi kepada anak didik dimana ada kesulitan masalah- masalah hidupnya. Bantuan itu baik diberikan kepada orang dalam suatu kelompok, boleh juga anak itulah yang menjadi sasaran bukan masalhnya. Maksud bimbingan dan penyuluhan  bukan memecahkan masalah untuk anak didik, melainkan sekedar membantu memecahkan sendiri masalah- masalah itu
Disini dikemukakan bahwa bimbingan itu bukan hanya memecahkan masalah yang dihadapi siswa baik perorangan maupun kelompok, tetapi bimbingan disini juga membantu memberikan jalan bagisiswa dalam mengatasi masalah- masalah. Jadi siswa yang mengalami masalah – masalahnya sendiri.
Dalam hal ini dapat penulis kemukakan bahwa bimbingan merupakan bagian dari pada program pendidikan secara keseluruhan yang dilakukan oleh ahli bersama stafnya dalam rangka memberikan pelayanan kepada individu, khusnya bagi yang mengalami masalah agar dapat mengembangkan kemampuan, bakat dan potensi yang terkandung pada diri individu, agar dapat mengambil keputusan sendiri dalam mencapai cita –citanya. Dalam kata lain sebagai berikut :
1.      Bimbingan dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya bimbingan.
2.      Bimbingan diberikan baik kepada kelompok maupun individu dalam kelompoknya.
3.      Pemberian bantuan diutamakan bagi individu yang mangalami masalah.
4.      Tujuan bimbingan adalah untuk membantu dalam memecahkan masalah –masalah yang dihadapi siswa.
5.      Petugas bimbingan tidak memaksakan kehendaknya kepada individu yang mengalami masalah.
6.      Bimbingan yang dilakukan adalah dengan sengaja dan disadari.

Pengertian Penyuluhan
Sebagaimana dikemukakan oleh Dra. Siti Rahayu Haditono mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :
“Penyuluhan adalah proses menolong orang supaya dapat mengatasi persoalan – persoalanya dalam menambahkan penyesuaian dirinya melalui wawancara atau interview serta sifat –sifat hubungan yang lalu antara orang dengan orang, misalnya dengan membuat orang yang ditolong tadi merasa bebas dan senang”
Berdasarkan definisi diatas dapat penulis uraikan sebagai berikut :
a)      Konseling merupakan usaha pemecahan masalah dalam arti sudah bermasalah atauakan kuatir timbulnya suatu masalah pada diri seseorang.
b)      Penyuluhan adalah pemberian pertolongan kepada individu yang mengalami masalah.
c)      Konseling termasuk suatu kegiatan yang saling bertatap muka dilakukan dengan cara wawancara atau dengan cara berdiskusi sendiri masalahnya
d)     Pada akhirnya individu yang ditolong akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Menurut Drs. Ketut Sukardi dalam bukunya yang berjudul :
Dasar – Dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah memberikan pengertian penyuluhan sebagai berikut :
“Hubungan timbal balik antar konselor dengan klien (konsele) dalam memecahkan masalah – masalah tertentu dengan wawancara yang dilakukan secara “face to face” atau cara yang sesuai dengan keadaan klien sehingga sanggup mengungkapkan isi hatinya secara bebas yang bertujuan agar klien dapat mengenal dirinya sendiri, mengetrapkan dirinya dalam proses penyesuaian dengan lingkungan  serta dapat berkembang dan berperan yang lebih baik dan optimal dalam lingkungannya”
a)      Petugas penyuluhan yaitu seorang ahli dalam ilmu jiwa(psikologi) yang mengadakan hubungan dengan disengaja dan direncanakan.
b)      Penyuluhan dan kepekaan dapat dengan segera mengetahui penyebab timbulnya ,masalah bagi siswa.
c)      Hubungan antara individu dengan penyuluh terselenggara baik.
d)     Hubungan antara individu dapat menumbuhkan suatu perubahan sikap (kepribadian).
e)      Jadi yang dimaksud dengan mempengaruhi beberapa “face to face”, kepribadiannya yaitu :
f)       Mempengaruhi dalam arti menunjang perkembangan kepribadian manusia menuju kearah kematangan.
g)      Menghilangkan beberapa gejala penyakit atau keteganggan jiwa.

Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan penyuluhan adalah :
a)      Bimbingan diberikan kepada siswa yng merupakan bagian fungsi pendidikan. Dalam penyuluhan dapat diberikan secara umum dan khusus artinya bantuan diberikan kepada kelompok individu atau individu dari kelompok itu sendiri.
b)      Kegiatan bimbingan dan penyuluhan adalah disengaja, sadar, berencana dan kontinu.
c)      Walaupun pada prinsipnya perlakuan terhadap individu itu harus sama, namun dalam bimbingan dan penyuluhan perlakuakuan itu dapat berbeda.
d)     Dalam memenuhi kebutuhan individu maupun sekolah, terorganisir dan luwes.
e)      Pelayanan bimbingan dan penyuluhan harus diarahkan kepada peningkatan perkembangan individu yang bersangkutan, sehingga individu dapat memecahkan masalahnya.

B.     Jenis – jenis bimbingan dan penyuluhan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Education guidance :
Suatu bimbingan yang diberikan kepada individu agar dapat menentukan cara –cara belajar yang tepat, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
2.      Personal social guidance
Diberikan kepada individu yang mengalami kesukaran – kesukaran pribadi, terutama dalam proses pematangan dirinya. Kesulitan – kesulitan yang dialami individu adalah berkaitan dengan penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya.
3.      Vocalional guidance
Bimbingan yang diberiakan kepada individu dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan disesuaikan dengan bakat minat dan ketrampilan sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaannya melalui :
a)      Vocational informational pekerjaan hendaknya disesuaikan dengan minat, bakat dan ketrampilanya.
b)      Vocational guidance , pemilihan pekerjaan hendaknya disesuaikan dengan minat, sifat dan tuntutan individu.
c)      Vocationaql training, latihan yang diberiakan individu sesuai dengan pemilihannya.
d)     Vocational placement, memberikan latihan kepada individu dalam melakukan pekerjaanya.
e)      Social placement, latihan yang diberiakan dalam hubungannya dengan pekerjaannya agar dapat menghargai pekerjaanya.

C.    Hubungan Antara Guru Pembimbing dengan Siswa dalam Penyuluhan
Hubungan guru pembimbing dan siswa merupakan alat utama dalam penyuluhan. Sehubungan dengan ini Shertezer dan Stone (1980:267) mengemukakan bahwa :
“Most theories and approaches stress the relationship between participants as the common ground for the helping process. Although viewpoints differ in the amounts of emphasis and in how they treat this topic, most agree that the relationship is a necessary condition for bringing about change in the individual”
Dari pernyataan diatas mengisyaratkan bahwa apapun teori dan pendekatan yang digunakan guru pembimbing dalam penyuluhan, peranan hubungan antara guru pembimbing dengan siswa tetap merupakan hal terpenting dalam penyuluhan yang akan membawa perubahan perilaku pada diri siswa.
Berikut ini dijelaskan kualitas hubungan antara guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Kualitas hubungan Guru Pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan
Kualitas hubungan guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan merujuk kepada kondisi yang diperlukan untuk terjadinya perubahan perilaku pada diri siswa (Prayitno, 1980:76).
Kualitas hubungan antara guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan tidak hanya menentukan terjadinya perubahan perilaku yang efektif pada diri siswa, akan tetapi juga menentukan apakah penyuluhan itu akan dilanjutkan atau tidak.
Brammer (1979:36-42) menyimpulkan kondisi-kondisi(kualitas hubungan) yang mempengaruhi keberhasilan konseling, yaitu : (1) pemahaman empati, (2) kehangatan dan perhatian, (3) keterbukaan atau keaslian, (4) penghargaan yang positif, (5) kekongkritan dan kekhususan.
2     Faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hubungan Guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan
Terdapat berbagai faktor yang turut mempengaruhi kualitas hubungan guru pembimbing dengan siswa dalam penyuluhan yaitu: (1) kondisi – kondisi eksternal seperti penataan fisik, proxemics dan privacy, (2) ciri-ciri khas siswa; dan (3) sikap-sikap guru pembimbing seperti kepercayaan dan nilai-nilai.
Dari ketiga faktor tersebut, guru pembimbing merupakan orang yang paling bertanggungjawab atas kualitas hubungan itu . Shertzer dan Stone (1980:255) mengemukakan bahwa guru pembimbing merupakan kunci untuk berinisiatif dan mengembangkan kualitas hubungan (kondisi-kondisi yang kondusif) bagi pertumbuhan siswa merupakan perpaduan dari ketrampilan guru pembimbing dalam melakukan teknik-teknik penyuluhan dengan faktor-faktor pribadi pembimbing itu sendiri.

D.    Sifat – sifat Bimbingan dan Penyuluhan
1.      Diagnostic, dengan diagnostic akan dapat diketahui segala kelemahan dan kelebihan dari individu yang meliputi :
a)      Aspek Intelektual, tentang aktifitas – aktifitas intelektualnya.
b)      Aspek diagnostic umum, kemungkinan – kemungkinan apa yang dihadapi beserta kelemahan dan kekurangannya
c)      Aspek efektif, apa – apa saja yang menjadi sifat – sifat dasar khusus bagi siswa
d)     Aspek advice, untuk psiko – terapi yaitu apa yang harus diselesaikan dalam kasusnya.
2.      Preventive, yaitu merupakan tindakan pencegahan dalam menghindari individu dari masalah – masalah yang dihadapi dari kekecewaaan atau kegagalan.
3.      Perceveratif, membantu siswa dalam melestarikan perkembangan siswa yang sedang berlangsung.
4.      Korektif, yaitu memberikan bantuan berupa usaha dalam mengatasi kelambatan siswa dalam belajarnya agar tidak ketinggalan dengan teman lainya.

E.     Bentuk – bentuk Bimbingan dan Penyuluhan
1.      Secara individu, bantuan yang diberiakan secara langsung (face to face) dalam kaitanya dengan kesulitan – kesulitan yang dihadapi seperti konflik antara siswa dengan lingkungan orang tua, lingkungan sekoloah, atau bakat dan minat, antara perkembangan intelektual dengan emosi.
2.      Secara kelompok, bantuan yang diberiakan secara kelompok terutama diberiakan dalam kaitanya dengan proses belajarnya di sekolah. Hal ini dilakukan apabila dalam suatu kelompok kelas ini memerlukan penaganan secara klasikal dalam meningkatkan prestasi belajarnya dapat memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi. Dalam hal ini penulis mengemukakan adanya pemberian bantuan secara klasikal melalui pendekatan metode mengajar yang tepat bagi proses belajar mengajar.

F.     Petugas Bimbingan dan Penyuluhan
Kedudukan petugas bimbibgan dan penyuluhan dalam membantu kepala sekolah beserta staf pengajar yang lain sebagai mana dikemukakan oleh Drs. Agus Sujanto, sebagai berikut :
1.      Kepala sekolah, sebagai pemimpin sekolah yang bertanggung jawab atas baik buruknya juga bertanggung jawab atas kesejahteraan warga sekolah tersebut. Kepala sekolah dalam mengelola sekolah membutuhkan bantuan petugas – petugas sebagai berikut :
2.      Wali kelas, berkewajiban mengadakan pembinaan terhadap kelas – kelas yang dipimpinannya.
3.      Para guru, berkewajiban mengadakan pembinaan terhadap bidang studi yang dipegangnya.
4.      BP3 (Badan Pembantu Penyelengaraan Pendidikan), yaitu lembaga social yang ikut membantu kelancaran pemdidikan yang terdiri orang tua murid dan masyarakat lainnya.
5.      Para pegawai dan penjaga sekolah sebagai pelaksana administrasi sekolah dan keamanan sekolah.
6.      Paedagog, adalah para ahli pendidikan yang ada hubungannya dengan pendidikan.
7.      Psikolog, ahli dalam bidang kewajiban yang dapat memberikan bentuan terhadap masalah – masalah yang ada hubungannya kewajiban.
8.      Psikiater adalah ahli dalam penyakit kejiwaan yang dapat memberikan bantuan terhadap masalah – masalah yang ada hubungannya dengan kejiwaan
9.      Dokter, yang dapat memberikan bantuan penyembuhan terhadap penyakit fisik.
10.  Sosial wolker, adalah petugas yang dapat memberikan bantuan dalam melaksanakan hubungan dengan penelitian.
11.  Evaluator, adalah ahli yang dapat memberikan bantuan terhadap masalah yang ada hubungannya dengan penelitian.
12.  Conselor, adalah ahli yang mempunyai tugas khusus dalam penanganan bimbingan dan penyuluhan. Conselor bertugas sebagai coordinator terhadap semua staf bimbingan dan penyuluhan.

Tugas lain daripada petugas bimbingan dan penyuluhan yaitu bersama kepala sekolah merencanankan program bimbingan yang efektif dalam suatu sekolah. Conselor bersama kepala sekolah merencanakan bimbingan yang sistemtis dan terpadu yaitu meliputi :
1.      Program pengembangan para guru
2.      Program konsultasi untuk orang tua dan guru
3.      Program konseling untuk murid
4.      Program penilaian hasil belajar

G.    Prosedur Penyelesaian
Prosedur penyelesaian dalam bimbingan dan penyuluhan  menggunakan teknik – teknik sebagai berikut :
1.      Teknik derektif
2.      Teknikk non derektif
Dalam teknik derektif, si terbimbing melaksanakan petunjuk – petunjuk yang diputuskan oleh pembimbing. Dalam teknik non derektif, pembimbing hanya merekfleksiakan saja, sehingga si terbimbing dapat mengambil keputusannya sendiri.
Adapun teknik pendekatan yang dipakai dalam prosedur penyelesaian adalah :
a)      Pendekatan individu.
Teknik pendekatan individu yaitu hubnungan pribadi antara si terbimbing  dan pembimbing melauli wawancara nasehat atau konseling. Sebagaimana dikemukakan oleh I. Djumhur dan Drs. Moh. Surya, bahwa dalam pendekatan individu ada tiga teknik khusus dalam konseling yaitu :
1.      Derektivee conseling, yaitu konseling dimana yang paling berperan adalah konselor. Konselor berusaha mengerahkan konseling sesuai dengan masalahnya.
2.      Non Derektive Conseling, teknik ini merupakan kebalikan dari teknik diatas, yaitu semuanya berpusat pada konseling menampung pembicaraan konselor. Konseling bebas berbicara sedang konselor menampung dan mengarahkan.
3.      Collective Conseling, yaitu campurnan dari teknik diatas.

Langkah – langkah yang ditempuh dalam konseling adalah sebagai berikut :
1.      Menentukan masalah
2.      Pengumpulan Data
3.      Analisa Data
4.      Hipotesis atau menetapkan latar belakang masalah
5.      Programa atau menetapkan langkah
6.      Terapi yaitu pelaksanaan bantuan
7.      Evaluasi dan follow up yaitu melihat hasil yang ditempuh

b)      Teknik pendekatan kelompok
Pendekatan semacam ini dapat dilakukan baik di kelas, disekolah, yaitu meliputi :
1.      Pendekatan kelompok
2.      Sosiodrama
3.      Penerangan secara kelompok
4.      Widya Wisata

H.    Aktivitas Belajar
Aktivitas berasal dari kata activity (bahasa Inggris) yang berarti pelajaran atau kegiatan. Sebagai pendapat S. Tejo Wasito dan WJS. Poerwadarminta yang artinya : aktifitas adalah pekerjaan kegiatan.
Dalam hal ini berarti siswa harus secara aktif dalam proses belajarnya agar tercapai hasil belajar yang semaksimal mungkin. Belajar adalah suatu aktifitas yang harus dikerjakan dengan sadar baik di luar sekolah maupun di sekolah (didalam kelas).
Pengertian aktivitas belajar adalah meliputi :
a)      Kegiatan yang dilaksanakan siswa dalam belajarnya
b)      Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar
c)      Peran serta siswa dalam ikut ambil bagian dalam belajarnya.

Oleh Karena itu perlu adanya pembinaan, pengarahan dan bimbingan khususnya bagi guru bidang studi dalam menjalankan tanggung jawabnya meningkatkan pelayananya dalam membimbing siswa, meliputi :
a)      Jangan menggangap bahwa kelompok siswa adalah kelompok yang utuh, siswa sendiri dari berbagai kelompok dan individu yang mempunyai kepentingan sendiri – sendiri.
b)      Hadapi siswa itu sebagai individu yang khas, yang mempunyai persoalan cita – cita, sifat dan latar belakang tersendiri.
c)      Yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa selain guru di sekolah juga factor lain seperti pengaruh keluarga dan masyarakat.
d)     Harus ada tekad yang kuat untuk benar –benar membina para siswanya.

Disamping itu guru harus dapat membangkitkan minat siswa terhadap pelajarannya sehingga guru harus :
a)      Guru mempunyai semangat dan gairah yang maksimal terhadap bidang studinya.
b)      Kemampuan guru untuk memajukan siswanya.
c)      Guru hendaknya tanggap ing sasmita
d)     Guru harus berpenampilan menarik, menyenangkan dan harmonis
e)      Guru harus mampu memberikan dorongan terhadap siswanya.

Dalam hubungannya dengan aktivitas belajar yang tinggi akan merubah siswa dalam proses belajar mengajar dari pasif menjadi aktif, sebagaimana dikemukakan oleh MC. Kenchi tentang proses belajar mengajar variasi cara belajarsiswa aktif (CBSA) sebagai berikut :
a)      Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar mengajar.
b)      Tekanan pada aspek afektif dalam pelajaran
c)      Partisipasi siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terutama berbentuk interaksi siswa.
d)     Penerimaan (acceptance) pengajar terhadap perbuatan dan kontribusi siswa yang kurang relevan atau balikan sama sekali rendah.
e)      Kehensipan siswa kelas sebagai kelompok
f)       Kebebasan atauy kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan sekolah.
g)      Jumlah waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik yang tidak mampu, baik yang tidak mampu yang berhubungan dengan pelajaran.

Berdasarkan pandangan diatas, bahw agar terjadi proses belajar mengajar variasi CBSA secara optimal, guru harus memiliki kompetensi agar dalam proses belajar mengajar diperoleh kemanusiaan antara metode yang dipilih dengan :
a)      Materi yang disampaikan
b)      Karakteristik masing – masing siswa
c)      Fasilitas yang tersedia
d)     Tujuan yang ingin dicapai
e)      Situasi dan kondisi lingkungan

I.       Prestasi Belajar
Pengertian prestasi belajar menurut WJS. Poerwadarminto menjelaskan bahwa prestasi belajar adalah “Hasil yang dicapai atau dilakukan………”
Sedangkan menurut Sumartono prestasi belajar adalah “sesuatu nilai yang menunjukan hasil yang tinggi dalam belajar yang ingin dicapai menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu…………..”
Berdasarkan pendapat diatas berarti hasil belajar seseorang tidak tergantung situasi yang mempengaruhi baik yang bersumber pada anak maupun dari lingkungannya. Disekolah prestasi belajar tersebut ditujukan dalam buku raport prestasi belajar merupakan kecakapan nyata yang berarti hasil yang ingin dicapai oleh seorang siswa pada suatu periode tertentu. Menurut Hamalik bahwa :
“Belajar adalah susatu bentuk pertumbuhan atas perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara – cara bertingkah laku yang baru berangkat pengalaman dan latihan”
Perubahan baru yang baru penulis kemukakan sebagai hal – hal yang belum diketahui sebelumnya, timbul pengertian – pengertian baru, perubahan sikap, kebiasaan, ketrampilan, perubahan sifat social, emosional, pertumbuhan jasmaniah serta rohaniah.
Perubahan belajar merupakan hal yang komplek sebab merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh factor intern maupun ekstern siswa itu sendiri.

J.      Usaha – usaha Bimbingan dan Penyuluhan dalam Menunjang Prestasi Belajar Siswa Demi Tercapainya Prestasi Belajar di Sekolah
Pelayanan yang diberikan oleh sekolah, khususnya oleh petugas bimbingan dan penyuluhan dalam meningkatkan prestasi belajar semaksimal mungkin di antaranya :
a)      Membantu individu yang bermasalah baik secara individu maupun kelompok.
b)      Menunjukan kepada individu tentang cara – cara belajar yang baik.
c)      Mengenal sifat – sifat dan ciri – ciri dari masalah yang dihadapi individu
d)     Penggunaan pengalaman – pengalaman masa lampau terhadap tugas, diferensiasi dan integrasi.
e)      Berusaha menciptakan situasi baru sesuai dengan pengalamannya
f)       Berusaha mengurangi dan memberikan kesalahan – kesalahan
Disamping itu agar dalam belajarnya memiliki pedoman dan belajar secara efektif dan efesien, perlu adanya prinsip – prinsip belajar sebagai berikut :
a)      Belajar adalah suatu proses aktif yang dipengaruhi oleh kondisi dinamis lingkungannya.
b)      Tujuan yang ingin dicapai sudah jelas
c)      Dalam belajar perlu adanya pedoman belajar, baik dari pembimbing maupun dari buku – buku.
d)     Dalam belajar perlu adanya latihan – latihan
e)      Belajar perlu adanya pedoman belajar, baik dari pembimbing maupun buku –buku.
f)       Dalam belajar dibutuhkan pula komprehensif.
g)      Belajar adalah kemamauan siswa dalam mentransfer pengalaman yang diperolehnya.
Berdasarkan prinsip – prinsip belajar diatas diharapkan agar siswa akan memperoleh prestasi belajar yang maksimal, Drs. Soemartono mengemukakan bahwa :
a)      Membangkitkan motivasi dan gairah dalam kegiatan belajar siswa.
b)      Petugas bimbingan dan penyuluhan  melaksanakan koordinasi dengan guru bidang studi, khususnya bidang studi Matematika untuk mencari jalan keluar. Memberikan petunjuk – petunjuk tentang cara belajar yang baik atau yang tepat
c)      Mewmberikan wawasan kepada siswa tentang masa depannya.
d)     Mengusahakan agar siswa dapat memahami keadaan lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah

J.      Latar Belakang Keluarga (Orang Tua)
Prestasi belajar siswa dapat pula dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, terutama perlakuan orang tua terhadap siswa dalam lingkungan keluarganya. Aktifitas serta prestasi belajar yang dicapai terutama tergantung pada perlakuan orang tua di masa kecil (anak - anak) yang dapat menggangu perkembangannya di kala itu. Perlunya orang tua terhadap anak anak akan mempengaruhi jiwa anak samapai pada masa perkembangnya lebih lanjut. Perlakuaan orang tua terhadap siswa di waktu kecil dapat juga mempengaruhi perkembangan inteltualnya serta perasaan rendah diri dalam lingkungan belajarnya. Yang lebih penting lagi ialah perlakuan orang tua sangat berpengaruh terhadap masa depan siswa.
Dalam menyesuaikan dengan lingkungannya, terutama lengkungan belajarnya disekolah siswa tidak dapat secara otomatis mengikuti dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajarnya, perlu mendapatkan bimbingan dan pembinann dari petugas bimbingan dan penyuluhan  di sekolah. Bagi petugas bimbingan dan penyuluhan  sendiri dalam mengidentifasi latar belakang siswa dengan bantuan data dokumentasi identitas siswa di sekolah, disamping dari hasil interview dan observasi.

K.    Belajar
Pengertian belajar menurut beberapa ahli adalah :
Menurut WJS. Poerdarminto dalam kamus Bahasa Indonesia mengatakan belajar adalah “Berusaha atau berlatih dan sebagainya supaya mendapatkan sesuatu kepandaian” Sedangakan menurut Sumarsono prestasi belajar adalah “Suatu nilai yang menunjukkan hasil yang tertinggi dalam belajar yang ingin dicapai menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu……………….”
Sedangkan menurut W. Setrn, bahwa belajar mengandung tiga hal :
1.      Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral,change maupun potensial)
2.      Bahwa belajar untuk mendapatkan perubahan dan pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.
3.      Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha
Diantara beberapa jenis belajar, salah satu diantaranya ialah belajar bersikap. Sebagai dikemukakan oleh I.L Pasaribu dan Drs. Simanjuntak, SH., bahwa :
“Belajar sikap ini dapat terjadi dengan berbagai cara mengetahui sesuatu dan merealisasikan sikap. Belajar siakp termasuk belajar norma dengan cara identifikasi, interaksi kelompok, alat komunikasi conditioning. Sikap merupakan dinamika untuk berbuat”

L.     Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Setiap perbuatan atau kegiatanbelajar tentu ada factor – factor yang mempengaruhinya, baik yang bersifat mendorong maupun sebaliknya yaitu menghambat secara singkat faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu dapat dibedakan antara faktor intern dan faktor ekstern.
1.      Faktor Intern adalah kempuan anak itu sendiri yang dibawa sejak lahir, pada dasarnya anak sudah dibekalai dengan bermacam – macam kemampuan atau bakat potensi antara yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Kemampuan yang bersifat bawaan ini tidak dapat diubah tetapi hanya dapat dipengaruhi atau dikembangkan menurut batas – batas yang telah dimilikinya. Dalam hubungan faktor intern yang sangat dilakukan oleh pendidikan adalah mengembangkan potensi atau bakat yang dimilikinya dengan jalan memberikan situasi atau rangsangan yang cocok atau tepat yaitu dengan jalan bagi anak yang berbakat dalam bidang studi Matematika diberikan bimbingan yang baik secara rutin sehingga pada akhirnya benar – baner menjadi seseorang ahli dalam bidang Matematika. Jadi pada dasarnya pendidikan merupakan proses tujuan melanjutkan potensi – potensi yang telah dimiliki anak sejak lahir.
2.      Faktor Ekstern adalah segala pengaruh dari luar anak baik berasal dari pendidikan maupun hasil pergaulan. Pengaruh dari luar ini dapat pula sesama manusia, dapat pula berupa lingkungan fisik atau benda mati. Usaha pendidikan disini adalah menetapkan atau mencegah hal – hal atau situasi yang akan menghambat. Adapun faktor ekstern antara lain :
a)      Fasilitas dan alat- alat pelajaran
b)      Situasi proses belajar mengajar
c)      Orang tua, situasi lingkungan masyarakat dan situasi lingkungan sekolah

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Di dalam penelitian berhasil tidaknya suatu kegiatan yang dilaksanakan banyak ditentukan oleh tepatnya metode yang digunakan. Dengan demikian metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menentukan kualitas hasil yang telah dilakukan . Oleh karena itu perlu terlebih dahulu ditentukan metode yang tepat bagi permasalahan yang akan diteliti dan ketetapan dalam memilih inilah yang akan mengarahkan kepada tujuan penelitian.
Dalam hal ini metode mempunyai pengertian sebagai alat penyelidikan, hal ini juga sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh WJS. Poerdarminto, bahwa : “Metode adalah cara yang teratur dan terpilih yang paling baik untuk mencapai suatu maksud dalam ilmu pengetahuan dalam pendidikan……”Sedangkan menurut Sutrisno Hadi adalah :”Metode adalah suatu usaha untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha dimana dilakukan dengan menggunakan metode – metode ilmiah….”
Istilah metode berasal dari kata “Metode” dan “Logos”. Metode artinya suatu cara untuk mencapai tujuan, sedangkan Logos artinya ilmu, maka metodologi berarti ilmu tentang cara untuk mencapai kebenaran sesuatu secara ilmiah.
Dengan melihat uraian diatas maka jelaslah bahwa metode pada hakekatnya membawa cara –cara yang dapat digunakan dalam suatu penyelidikan guna mendapat data- data yang objektif akhirnya diperoleh suatu hasil yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah. Dalam bab ini akan dibahas suatu persatu tentang :
  1. Metode Penemuan Objek Populasi dan Sampel
  2. Metode Pengumpulan Data
  3. Metode Analisa Data
Dari sekian pokok bahasan ini, akan penulis kemukakan satu persatu, sebagai berikut :

A.    Metode Penentuan Objek
Metode penentuan objek tentu ada cara yang digunakan untuk memilih, dijadikan dan menentukan hal – hal yang penulis anggap dapat dijadikan sumber data sesuai dengan kebutuhan yang tertera dalam pelaksanaan diatas sehingga dapat memenuhi data –data yang diperlukan secara tepat.
Pada setiap penelitian tentu ada objek yang diteliti, yang dimaksud objek penelitian adalah segala sesuatu yang dikenal atau menjadi sasaran penelitian dengan adanya perumusan, pembatasan serta penentuan objek, penelitian ini akan dimanfaatkan serta terhindar kemungkinan menjadi kekaburan yang sekaligus akan memudahkan penyelenggaraan
Dalam menentukan objek penelitian, penulis tidak menggunakan sistem randomisasi tetapi berdasarkan populasi siswa yang mengalami kelambatan dalam bidang studi Matematika yaitu sejumlah 5 (lima) orang mereka itu adalah :
1.      HERI
2.      UDIK
3.      ROFI
4.      TRI
5.      MUKLISON
Alasan penulis mengadakan analisa data terdapat keseluruhan populasi sekolah SMPN XXX tersebut diatas, mengingat bahwa kemampuan belajar Matematika yang mereka capai belum pada taraf yang dikategorikan kriteria sedang.
Populasi dan Sampel
Sebagai populasi penelitian ini adalah siswa SMPN XXX sedangkan sampelnya dalah siswa SMPN XXX tahun ajaran 200X Sedangkan jumlah kelas X pada SMPN XXX ada 9(sembilan) kelas.
Sampel dari populasi kelas X seluruhnya dengan menggunakan random dan cara ordinal sebanyak satu kelas. Dari jumlah kelas atau sembilan kelas setelah dirandom terdapat satu kelas dengan jumlah 49 siswa, sekaligus sebagai sampel.
Sutrisno Hadi menjelaskan cara ordinal adalah :
“Cara yang diselenggarakan dengan menyusun subjek dalam suatu daftar dan mengambil mereka – mereka yang akan ditugaskan di dalam sampel di atas kebawah misalnya mengambil mereka – mereka yang bernomor kelipatan angka lima dan yang bernomor ganjil atau genap”
Menurut Dra.Ny. Suharsini Arikonto bahwa : “sampel adalah sebagai dari wakil populasi yang diteliti jika kita akan hanya meneliti sebagian dari populasi maka metode tersebut metode sampel”


B.     Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara untuk mendapatkan data dari proyek yang diteliti. Ada beberapa cara dalam pengumpulan data, namun tidak setiap cara yang ada selalu cocok untuk memperoleh data yang diperlukan. Hal ini disebabkan tiap metode mempunyai kegunaan sendiri – sendiri. Agar dalam pelaksanaan penelitian, pengumpulan data ini bisa efisien maka penulis perlu menggunakan metode – metode yang tepat dan bersifat ilmiah.
Adapun metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :
a)      Metode Observasi (Pengamatan)
Penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap objek, baik secara langsung maupun tidak langsung, menggunakan teknik yang disebut dengan “pengamatan atau observasi”. Teknik ini banyak digunakan, baik dalam penelitian dapat diamati dari dekat untuk melaksanakan pengamatan ada 3 cara antara lain :
1.      Pengamatan langsung (direct observation) yakni : pengamatan yang dilakukan tanpa perantara atau secara langsung terhadap objek yang diteliti seperti mengadakan pengamatan langsung terhadap proses belajar mengajar di kelas.
2.      Pengamatan tak langsung (direct observation) yaitu : Pengamatan yang dilakukan terhadap suatu objek melalui perantara suatu alat, cara, baik dilaksanakan dalam situasi sebenarnya maupun bantuan. Contoh mengadakan pengamatan terhadap pengaruh hukuman terhadap suasana kejiwaan, atau mengadakan pengamatan melalui alat yang disengaja untuk keperluan tersebut.
3.      Partisipasi yaitu : Pengamatan yang dilaksanakan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti. Cara ini biasanya banyak digunakan terutama dalam penelitian psikologi, sosiologi maupun antropologi, namun demikian dalam lapangan pendidikan pun banyak pula yang digunakan teknik ini, seperti mengadakanpengamatan terhadap mekanisme proses hubungan siswa antara guru, kepala sekolah, dilakukan dengan cara ikut ambil bagian sebagian guru dan mangamati setiap gejala yang menjasi objek penelitian.
Cara mengadakan pengamatan sebagaimana diuraikan di atas dapat juga dilaksanakan dengan menggabungkan dua atau tiaga cara sekaligus dalam suatu kegiatan penelitian, mengambil pertimbangan bahwa suatu cara dianggap kurang memadai. Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penelitian ke dalam suatu skala bertingkat.
Misalnya : Kita memperhatikan reaksi siswa dalam menerima pelajaran Matematika, bukan hanya mencatat reaksinya itu bagaimana, dan berapa kali ia masuk, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat kurang atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki.
b)      Metode Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang berisikan daftar isian yang harus diisi atau dijawab oleh sejumlah subjek, dari angket tersebut dapat diambil kesimpulan – kesimpulan tentang subjek yang diselidiki. Sedangkan jenis pertanyaan ada yang tertutup ada pula yang terbuka. Jenis pertanyaan dikatakan tertutup apabila penjawab yang telah tersedia dalam angket.
Sebagaimana dikemukakan oelh Drs. Bimo Walgito tentang angket yaitu sebagai berikut :
“Jenis pertanyan tertutup adalah pertanyaan – pertanyaan yang terbentuk, dimana orang yang menjadi questiore tinggal milih jawaban yang telah disediakan dalam questionaire”
Dalam hal ini penulis laksanakan agar dapat mendeteksi sejauh mana tanggapan dan fungsi bimbingan dan penyuluhan terhadap prestasi belajarnya. Sebab ternyata walaupun program bimbingan dan penyuluhan sudah dilaksanakan di SMPN XXX masih ada siswa yang enggan datang mengemukakan masalahnya atau kesulitannya yang dihadapi terhadap guru wali wali kelas bahkan terhadap tugas bimbingan dan penyuluhan sendiri. Untuk itu maka penulis memendang perlu untuk mendapatkan informasi dari siswa melalui angket.
c)      Metode Dokumentasi
Metode ini sering disebut metode historis, sebagai landasan penulisan kutipan dari pendapat Dr. Winarno Surahmad, M. Sc., sebagai berikut :
“Metode dapat disebut historis atau dokumentasi, bila penyelidikan ditujukan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber – sumber dokumen. Hanya ada metode historis berusahan mencari penjelasan suatu budaya masa lau, metode dokumentasi mungkin dalam penyelidikan mengenai masa sekarang……”
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, disini mengandung arti sebagai bukti tertulis maupun tidak tertulis yang berhubungan dengan data yang tidak berubah kebenarannya dan dapt dilihat serta diperiksa dikemudian hari. Adapun yang penulis maksudkan disini adalah suatu cara untuk mengumpulkan data berdasarkan data dokumentasi yang berbentuk tulisan dalam fungsi bimbingan dan penyuluhan dalam menunjang prestasi belajar Matematika siswa SMPN XXX.

C.    Metode Analisa Data
Pengelolaan data didalam suatu penelitian merupakan langkah yang menentukan untuk mendapatkan hasil –hasil penelitian yang diharapkan sebagaimana telah dikemukakan bahwa dalam penelitian ada bermacam – macam metode pengelolaan data tersebut tergantung pada tujuan penelitian dan bentuk dari penelitian yang bersangkutan. Sehubungan dengan penggunaan metode pengelolaan kebenarannya.
Analisa data merupakan langkah lanjut dari pengumpulan data yakni cara –cara yang diperoleh dan diperdengarkan dalam mengelola dan menganalisa data hasil penelitian. Bila hal ini dilakukan atau cara menganalisa tidak ada artinya.
Sebelum data tersebut ini dianalisa terlebih dahulu penulis kemukakan klasifikasi data sebagai berikut :
1.      Klasifikasi Data
Metode yang penulis kemukakan dalam penelitian ini metode deskriptif. Prof. Winarno Surahmad, M.Sc, mengemukakan ciri metode deskriptif adalah sebagai berikut :
a)      Memusatkan diri pada pemecahan masalah –masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah – masalah yang aktual.
b)      Data yang dikumpulkan mula –mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa.
Klasifikasi data yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
a)      Pengaruh bimbingan dan penyuluhan dalam peningkatan aktifitas belajar siswa
2.      Analisa dan interprestasi Hipotesa
Dikemukakan oleh Prof. Dr. Winarno Surahmad, M.Sc.Ed., bahawa dalam menguji kedudukan sebuah hipotesa diperlukan data dengan sifat tertentu, seperti :
a)      Data menunjukkan perhubungan variabel bebas dengan variabel bertingkat
b)      Data yang menunjukkan tidak adanya sebab – sebab lain selain pengaruh variabel terhadap variasi terikat
c)      Data yang menunjukkan timbulnya variasi terikat sebagai akibat adanya variasi bebas

Dalam pengelolaan data ini penulis kemukakan dengan menggunakan table presentasi (Presentasi Tabel). Untuk memperoleh presentasi dari suatu nilai, dapat dicari dengan rumus :
% = (f / N) * 100
Dimana : f = jumlah responden dengan nilai tertentu
N = jumlah selaku responden
Bentuk – bentuk table presentasi adalah :
1.      Tabel random, yakni table yang memungkinkan memuat responden yang banyak dari anggota sample atau table yang mempunyai sel banyak untuk kasus tunggal.
2.      Tabel bervariasi, yakni table yang dibuat untuk membandingkan dan variabel dari dua sampel, atau meringkas atau menggambarkan antara dua variabel.
3.      Tabel multivariasi, yakni table yang dibuat untuk menggambarkan atau meringkas hubungan antara beberpa variabel.

0 komentar :

Poskan Komentar

Silahkan Beri Komentar Anda